Jakarta, Aktual.com — Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang menyatakan siap turun langsung ke daerah untuk membantu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menghadapi Pemilu 2029 dinilai sebagai sinyal relasi politik yang bersifat saling menguntungkan. Langkah tersebut tidak semata dimaknai sebagai aktivitas kampanye, melainkan juga berkaitan dengan kepentingan elektoral dan posisi tawar politik Jokowi setelah tak lagi menjabat presiden.
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai keterlibatan Jokowi memiliki nilai strategis yang signifikan bagi PSI. Sebagai figur nasional dengan tingkat pengenalan publik yang masih tinggi, Jokowi dinilai mampu meningkatkan visibilitas dan daya tarik PSI, terutama di daerah-daerah yang selama ini belum menjadi basis kuat partai tersebut.
“Bagi PSI, Jokowi adalah aset simbolik yang bisa mendongkrak elektoral. Figur ini dapat mempercepat pengenalan partai dan membuka akses ke segmen pemilih tertentu,” ujar Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu, kepada Aktual.com, Rabu (04/02/2026).
Namun demikian, Arifki menegaskan relasi tersebut tidak bersifat sepihak. Menurutnya, Jokowi juga memiliki kepentingan untuk tetap berada dalam orbit politik nasional pascakekuasaan. Dalam konteks itu, PSI dinilai dapat berfungsi sebagai kendaraan politik yang memberi Jokowi ruang pengaruh sekaligus posisi tawar menjelang dinamika politik 2029.
“PSI memberi Jokowi kanal politik tanpa harus masuk ke partai besar atau struktur pemerintahan. Ini bentuk relasi yang lazim dalam praktik politik,” katanya.
Arifki menjelaskan, hubungan saling membutuhkan semacam ini kerap muncul dalam fase pascapresiden. Partai membutuhkan figur kuat untuk meningkatkan elektabilitas, sementara figur membutuhkan partai agar tetap relevan dan memiliki pengaruh politik berkelanjutan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dukungan tokoh besar tidak otomatis menjamin keberhasilan elektoral. Pengalaman pemilu menunjukkan bahwa figur hanya berfungsi sebagai pengungkit awal, sementara hasil akhir tetap sangat ditentukan oleh kerja organisasi partai.
“Figur bisa membuka pintu, tetapi yang menentukan apakah pintu itu dilewati atau tidak adalah kekuatan struktur partai, kerja kader di daerah, serta konsistensi agenda politiknya,” ujarnya.
Terkait keputusan Jokowi kembali aktif turun ke daerah meski sebelumnya menyatakan ingin pensiun dari politik, Arifki menilai langkah tersebut wajar. Menurutnya, serangan politik terhadap Jokowi masih terus berlangsung, dan persepsi publik terhadap Jokowi juga beririsan dengan masa depan politik putranya, Gibran Rakabuming Raka.
Dalam praktik politik nasional, mantan presiden kerap tetap memainkan peran informal sebagai aktor pengaruh, seperti yang dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat dan Megawati Soekarnoputri di PDI Perjuangan.
“Saya melihat langkah Jokowi ini sebagai uji kesaktian politik. Bukan hanya soal meloloskan PSI ke parlemen, tetapi apakah bisa mendorongnya menjadi partai besar. Namun kuncinya tetap ada pada PSI, apakah mampu mengelola momentum ini menjadi kerja politik yang konkret dan berkelanjutan,” pungkas Arifki.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















