Jakarta, aktual.com – Bank Indonesia (BI) melaporkan sektor ekonomi dan keuangan syariah nasional tetap menunjukkan ketahanan di tengah dinamika dan ketidakpastian global sepanjang 2025.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11% secara tahunan (year on year/yoy), sektor Halal Value Chain (HVC) tumbuh lebih tinggi yakni sebesar 6,2% yoy. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kinerja positif industri makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan kontribusi HVC terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga mengalami peningkatan signifikan.
“Kontribusi HVC terhadap PDB meningkat 155 basis poin, dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025,” ujar Destry dalam siaran pers dikutip Senin (16/2/2026).
Di sektor keuangan, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66% yoy pada akhir 2025. Pertumbuhan ini didukung oleh insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp35 triliun atau setara 4,49% dari batas maksimal 5,5% per Desember 2025.
Selain itu, akselerasi pembiayaan juga didorong berbagai program strategis, termasuk Bulan Pembiayaan Syariah yang pada 2025 mencatat realisasi Rp939 miliar, atau 60% di atas target Rp589 miliar.
“Capaian ini menunjukkan daya tahan dan kontribusi nyata sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Destry.
Kinerja positif turut tercermin dari meningkatnya pemanfaatan instrumen lindung nilai (hedging) syariah yang tumbuh 86,5% yoy menjadi US$466 juta. Sementara itu, di sektor keuangan sosial, penyaluran zakat, infak, dan sedekah (ZIS) melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) hingga kuartal II-2025 mencapai Rp52,5 triliun, naik 43% secara year to date dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar Rp36,8 triliun.
Inovasi blended finance melalui Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga mencatat pertumbuhan 22% yoy dengan outstanding akhir 2025 sebesar Rp1,4 triliun. Penguatan tersebut turut ditopang peningkatan literasi ekonomi dan keuangan syariah yang kini mencapai 50,18%, hampir dua kali lipat dibandingkan posisi 2023.
Melalui implementasi Blueprint Eksyar 2030 yang berfokus pada penguatan rantai nilai halal, optimalisasi pembiayaan, serta perluasan literasi dan inklusi, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat transformasi sektor syariah sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan.
Dari sisi industri jasa keuangan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa industri perbankan syariah mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025.
Total aset industri perbankan syariah mencapai posisi tertinggi sepanjang masa (all time high) sebesar Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92% yoy. Sementara itu, pembiayaan tercatat sebesar Rp705,22 triliun atau meningkat 9,58% yoy.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan pertumbuhan solid sebesar 10,14% yoy menjadi Rp892,99 triliun.
OJK optimistis tren positif tersebut akan berlanjut pada 2026, seiring prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga, dengan tetap mewaspadai risiko geopolitik dan ketidakpastian global.
“Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain,” ujar Dian.
















