Jakarta, Aktual.com — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendorong pemerintah daerah memperkuat riset dan kolaborasi sebagai langkah strategis untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).

Hal tersebut disampaikan Bima dalam Rilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Ia menegaskan bahwa inovasi yang berkelanjutan dan terlembaga menjadi fondasi penting guna mencapai target Indonesia Emas 2045.

Menurut Bima, daerah tidak bisa lagi mengandalkan pola kerja biasa. Pemerintah daerah perlu membangun ekosistem inovasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, komunitas, pelaku usaha, hingga lembaga riset.

“Tugas kita adalah memastikan inovasi itu melembaga. Kepala daerah boleh berganti, tetapi ekosistem inovasi harus tetap berjalan,” ujarnya.

Ia menekankan, inovasi tidak boleh sekadar menjadi program seremonial atau untuk mengejar penghargaan. Inovasi, kata dia, harus berorientasi pada solusi nyata yang memberi nilai tambah bagi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Untuk mempercepat hal tersebut, Bima mengusulkan pembentukan “Rumah Inovasi Daerah” sebagai ruang kolaborasi lintas sektor. Selain itu, ia mendorong penerapan skema blended finance guna memperkuat pendanaan riset serta jalur fast track bagi adopsi teknologi di daerah.

Bima juga berharap peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) semakin diperkuat sebagai motor penggerak ekosistem inovasi nasional.

Ia menambahkan, berbagai indikator seperti IDSD harus dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan yang substantif, bukan sekadar kewajiban administratif.

Dengan penguatan riset, kolaborasi, dan kelembagaan inovasi, pemerintah optimistis daerah dapat menjadi mesin pertumbuhan baru sekaligus mempercepat langkah Indonesia menuju negara maju pada 2045.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi