Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi XII DPR RI, Jalal Abdul Nasir, mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap remeh dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, ketegangan politik di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi ketahanan energi nasional, stabilitas fiskal negara, hingga daya beli masyarakat di Indonesia.
Jalal menilai eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dapat memberikan implikasi strategis bagi perekonomian Indonesia, terutama pada sektor energi yang masih bergantung pada impor.
“Situasi geopolitik di Timur Tengah tidak boleh dipandang sebagai isu yang jauh dari kepentingan Indonesia. Dampaknya dapat langsung dirasakan pada sektor energi dan ekonomi nasional,” ujar Jalal dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/3/2026).
Ia menjelaskan konsumsi minyak nasional saat ini berada di kisaran 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi minyak domestik masih berada di sekitar 600 ribu barel per hari.
Kondisi tersebut membuat Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Artinya lebih dari 60 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor, baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM jadi. Kondisi ini membuat Indonesia cukup sensitif terhadap gejolak harga energi global,” jelas politisi Fraksi PKS tersebut.
Jalal juga menyoroti potensi gangguan distribusi energi dunia apabila jalur perdagangan minyak internasional terdampak konflik geopolitik. Salah satu jalur strategis yang kerap menjadi perhatian adalah Selat Hormuz yang menjadi rute utama perdagangan minyak dunia.
Menurutnya, sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak global melewati jalur tersebut. Jika terjadi gangguan distribusi di kawasan itu, harga minyak dunia berpotensi melonjak.
“Apabila terjadi gangguan distribusi di kawasan tersebut, harga minyak global hampir pasti terdorong naik,” katanya.
Kenaikan harga minyak dunia, lanjut Jalal, dapat berdampak langsung terhadap kondisi fiskal Indonesia. Dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sektor energi merupakan salah satu komponen yang sensitif terhadap perubahan harga minyak.
Ia menyebut setiap kenaikan harga minyak sekitar 10 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga triliunan rupiah.
Selain berdampak pada fiskal negara, dinamika global juga dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Perubahan sentimen global sering kali mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam kondisi tersebut, Jalal menekankan pentingnya koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia guna menjaga stabilitas inflasi.
Ia juga menilai momentum dinamika global dapat dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi energi nasional, termasuk dengan meningkatkan lifting migas, memperkuat cadangan energi strategis, serta mempercepat pengembangan energi baru terbarukan.
“Ketahanan energi adalah bagian dari ketahanan nasional. Dengan langkah strategis dan berbasis data, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















