Jakarta, aktual.com – Menjelang sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 Hijriah, suasana tenang di kawasan Cigombong, Bogor, Jawa Barat. Di lingkungan Villa Zawiyah Arraudhah tepatnya, kegiatan Suluk wal I’tikaf Awakhir Ramadhan kembali digelar sebagai ruang bagi para peserta untuk menata kembali hubungan spiritual mereka kepada Allah SWT melalui ibadah yang teratur serta kebersamaan dalam dzikir dan pembelajaran agama.

Program yang diselenggarakan oleh Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation ini berlangsung selama tujuh hari, mulai malam 21 Ramadhan hingga 27 Ramadhan 1447 H atau bertepatan dengan 10–17 Maret 2026. Kegiatan dipusatkan di Masjid Zawiyah Arraudhah yang berada di lingkungan Zawiyah wa Ma’had Arraudhah Village, Cigombong. Acara ini menjadi tempat berkumpulnya para pencari ketenangan batin.

Khodimu Zawiyah Arraudhah, Abuya KH Muhammad Danial Nafis, mengatakan kegiatan suluk merupakan kesempatan bagi seseorang untuk meluangkan waktu secara khusus dalam setahun untuk memperdalam ibadah. Ia menilai momentum akhir Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.

“Betapa pentingnya menyisihkan waktu barang setahun sekali untuk memfokuskan mendekatkan diri pada Yang Maha Esa,” ujar Abuya KH Danial Nafis, Minggu (15/3/2026).

Menurutnya, suluk merupakan bagian dari perjalanan spiritual seorang salik yang menempuh jalan menuju kehidupan akhirat. Dalam proses tersebut, seorang murid juga menjaga hubungan batin dengan para guru yang memiliki sanad keilmuan hingga Rasulullah SAW.

“Iya, ‘Suluk’ adalah bagian yg sepatutnya di kerjakan setiap Sâlik ila Thorîqil Âkhiroh,” kata Abuya KH Danial Nafis.

Selama tujuh hari pelaksanaan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang disusun hampir sepanjang hari. Ibadah dimulai sejak dini hari pukul 01.00 WIB, dengan qiyamullail yang meliputi sholat taubat, hajat, istikharah, dan tasbih, kemudian dilanjutkan dzikir bersama serta muhasabah. Rangkaian ibadah malam tersebut dipandu oleh Abuya KH Danial Nafis bersama asatid.

Menjelang Subuh, peserta melaksanakan sahur bersama sebelum mengikuti sholat Subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan kajian keagamaan. Pagi hari diisi dengan sholat Dhuha dan amalan lainnya, kemudian peserta diberi waktu istirahat sebelum kembali melanjutkan tadarus Al-Qur’an.

Memasuki siang hingga sore hari, kegiatan berlanjut dengan sholat berjamaah, dzikir bersama, serta tadarus yang dilakukan secara bergantian. Menjelang waktu berbuka, kegiatan diisi dengan wadzifah, persiapan berbuka, pembagian takjil, pelaksanaan sholat Maghrib, serta buka puasa bersama.

Pada malam hari, peserta kembali berkumpul untuk melaksanakan sholat Isya dan tarawih berjamaah. Setelah itu, kegiatan tadarus kembali dilakukan sebelum peserta beristirahat hingga waktu qiyamullail berikutnya tiba.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung hampir tanpa jeda tersebut dimaksudkan untuk membantu peserta memusatkan perhatian pada ibadah dan perenungan diri selama masa suluk berlangsung.

Mudir Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) DKI Jakarta, Ustadz Irawan Santoso, menyampaikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan suluk menjadi ruang yang penting bagi umat untuk memperdalam kehidupan spiritual, terutama pada momentum akhir Ramadhan.

“Kegiatan seperti ini sangat baik untuk memperkuat dzikir dan memperdalam perjalanan spiritual para jamaah,” ujar Ustadz Irawan.

Ia juga menilai kegiatan suluk dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk menata kembali hati dan pikiran di tengah berbagai kesibukan sehari-hari. “Raga mungkin bisa kita beri makan dengan makanan, tapi hati dan pikiran perlu diolah dan diberikan gizi ruhani yang seimbang,” kata Ustadz Irawan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain