Jakarta, Aktual.com – Meskipun jumlah pemudik diperkirakan menurun dibandingkan tahun lalu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan perputaran uang selama Lebaran 2026 tetap sangat besar, berpotensi mencapai Rp161 triliun. Nilai ini menunjukkan konsumsi masyarakat tetap menjadi penggerak ekonomi nasional, terutama di awal tahun.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menjelaskan potensi perputaran uang didasarkan pada asumsi rata-rata dana yang dibawa per keluarga mencapai Rp4,125 juta, meningkat 10 persen dibandingkan 2025. Dengan total 35,975 juta kepala keluarga yang diperkirakan melakukan mudik, potensi dana yang beredar mencapai Rp148,4 triliun.
“Jika rata-rata dana per keluarga naik menjadi Rp4,5 juta, total perputaran uang bisa mencapai Rp161,9 triliun,” ujar Sarman dalam keterangan tertulis, Senin (16/3/2026).
Prediksi ini mengacu pada survei Kementerian Perhubungan yang memperkirakan 143,9 juta orang akan melakukan mudik Lebaran 2026, atau sekitar 50,6 persen dari total populasi Indonesia. Jumlah pemudik ini menurun 1,75 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 146,4 juta orang.
Kadin memperkirakan dana Lebaran paling banyak akan beredar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Sementara sisanya tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, serta sejumlah destinasi wisata di Tanah Air. Pengeluaran pemudik biasanya mencakup tiket transportasi, biaya tol dan bahan bakar, perawatan kendaraan, oleh-oleh, pakaian baru, serta kebutuhan makanan khas Lebaran.
Sarman menambahkan lonjakan belanja masyarakat selama Idulfitri diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Peningkatan konsumsi rumah tangga yang diperkirakan 10–15 persen berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4–5,5 persen.
Dengan begitu, meski jumlah pemudik menurun, dampak ekonomi dari arus uang Lebaran tetap signifikan. Kadin menilai momentum ini menjadi peluang penting bagi pelaku usaha dan pemerintah untuk mendorong konsumsi masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi















