Yerusalem — Jumat (20/3/2026) pagi, Idul Fitri di Yerusalem Timur tahun ini tidak diwarnai gelombang jamaah yang biasanya memadati kompleks Masjid Al-Aqsa. Gerbang-gerbang kota tua justru dijaga ketat, akses dibatasi, dan suasana yang lazimnya penuh takbir berubah menjadi lengang dan tegang.
Otoritas Israel melarang pelaksanaan salat Id di Al-Aqsa dengan alasan keamanan, seiring meningkatnya konflik dengan Iran. Pembatasan itu bukan hanya menutup tempat ibadah, tetapi juga membatasi ruang publik. Para pedagang diminta menutup toko, aktivitas warga dipersempit, dan Kota Tua nyaris seperti kota yang berhenti bernapas.
Namun, larangan itu tidak sepenuhnya menghentikan langkah warga Palestina. Sejak fajar, ratusan orang tetap datang mendekati Al-Aqsa, membawa sajadah di bawah lengan, mencari celah untuk tetap menunaikan salat meski hanya di jalanan.
“Hari ini, Al-Aqsa telah direbut dari kita. Ini adalah Ramadan yang menyedihkan dan menyakitkan,” kata Wajdi Mohammed Shweiki, seorang pria Palestina berambut perak berusia 60-an, kepada AFP.
“Ini adalah situasi yang sangat buruk bagi penduduk Yerusalem, bagi warga Palestina pada umumnya, dan bagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia.”
Kerumunan sempat mencoba mendekati gerbang kota. Takbir menggema, sebagian melantunkan syahadat. Namun aparat kepolisian zionis mendorong mereka mundur, bahkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang dianggap melampaui batas yang diizinkan.
Polisi sempat melonggarkan barikade. Di sela ruang yang sempit itu, para jamaah memanfaatkan kesempatan. Mereka membentangkan sajadah di aspal, menunaikan salat Id di dekat Gerbang Herodes. Seorang imam berdiri di atas bangku plastik, menyampaikan khutbah singkat di tengah tekanan situasi.
“Berdoalah, mohonlah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan berharaplah agar doa-doa kalian dikabulkan,” katanya kepada para jamaah. “Ya Tuhan, berikanlah kemenangan kepada orang-orang yang tertindas.”
Momen itu berlangsung singkat. Setelahnya, aparat kembali membubarkan kerumunan. Jamaah perlahan meninggalkan lokasi, menyusuri gang sempit Kota Tua. Sebagian berhenti membeli roti hangat di kios kecil. Sebuah ritual sederhana yang tersisa di tengah hari raya yang tak utuh.
Jumlah jamaah yang hadir hanya ratusan orang. Angka yang jauh dari biasanya, ketika Idul Fitri di Yerusalem bisa menghadirkan puluhan ribu hingga sekitar 100.000 orang di Al-Aqsa.
Penutupan ini disebut sebagai yang terpanjang dalam periode Ramadan hingga Idul Fitri sejak Israel mencaplok Yerusalem Timur pada 1967. Tak hanya Al-Aqsa, akses ke situs suci lain seperti Gereja Makam Suci dan Tembok Barat juga dibatasi.
Di balik alasan keamanan, muncul kekhawatiran lain. Sejumlah warga Palestina menilai pembatasan ini bukan sekadar langkah darurat, melainkan bagian dari perubahan perlahan atas status akses ke situs-situs suci.
“Pihak penjajah, dengan dalih keamanan dan untuk kepentingan mereka sendiri, telah menutup masjid,” kata ulama Ayman Abu Najm.
“Dalam sejarah pendudukan, ini adalah periode terpanjang di mana Masjid Al-Aqsa ditutup.”
Di sisi lain, tekanan ekonomi juga terasa. Pedagang yang biasanya mengandalkan momen Lebaran untuk meraup keuntungan justru kehilangan penghasilan. Pembatasan aktivitas membuat roda ekonomi di kawasan itu ikut tersendat.
Bagi sebagian warga, kehilangan akses ke Al-Aqsa bukan sekadar soal tempat ibadah. Ada dimensi personal yang terasa hilang.
“Ramadan tanpa Masjid Al-Aqsa adalah perasaan yang sangat menyedihkan, perasaan seperti patah hati,” kata seorang jamaah, Zeyad Mona.
Artikel ini ditulis oleh:
Andry Haryanto

















