Di medan yang seharusnya masih menyisakan ruang kemanusiaan, bahkan ambulans tak lagi aman. Di Gaza, upaya menyelamatkan nyawa justru berubah menjadi titik paling rentan, menjadi tempat di mana peluru dan keputusan militer bertemu tanpa jeda.
Sebuah laporan terbaru mengungkap dugaan praktik serangan “double tap” yang dilakukan oleh pasukan zionis. Dalam konteks ini, serangan ganda merupakan serangan berlapis yang tidak hanya menyasar korban pertama, tetapi juga mereka yang datang untuk menolong.
Analisis kelompok kampanye global Avaaz menyebut serangan tersebut berpotensi melanggar hukum perang internasional, termasuk Konvensi Jenewa dan Statuta Roma. Dalam laporan yang dibagikan secara eksklusif, mereka menyusun ulang kronologi kejadian yang berujung pada kematian warga sipil dan petugas medis.
“Dengan merekonstruksi koordinasi dan pengaturan waktu seputar misi ambulans yang disetujui, hal ini menunjukkan bahwa ada bukti substansial tentang taktik ‘serangan ganda’ yang disengaja – serangan militer awal diikuti dengan serangan kedua yang diatur waktunya secara sengaja yang menargetkan petugas tanggap darurat dan personel medis yang tiba untuk membantu,” kata Avaaz dalam laporannya, dikutip Aljazzera.com, Selasa (24/3/2026).
Laporan tersebut tidak hanya berbicara soal satu insiden, tetapi pola yang lebih luas. Dalam temuan yang dihimpun, lebih dari 40 dugaan pelanggaran hak asasi manusia tercatat, membentuk satu kesimpulan yang mengkhawatirkan.
“Dokumen ini mencatat lebih dari 40 pelanggaran hak asasi manusia dan menghubungkan bagaimana pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan bukti serangan ganda terhadap para pekerja rumah sakit. Setiap pelanggaran mengarah pada kemungkinan yang mengkhawatirkan: Israel tidak hanya membunuh warga Palestina – tetapi juga secara sistematis membunuh mereka yang mencoba menyelamatkan mereka. Pesannya jelas: Jika komunitas medis mencoba membantu, mereka akan dimusnahkan.”
Dalam konteks perang yang masih berlangsung, angka korban tenaga medis menjadi indikator yang tak bisa diabaikan. Lebih dari 1.500 petugas kesehatan dilaporkan tewas sejak agresi dimulai di Gaza, termasuk korban yang jatuh bahkan setelah deklarasi “gencatan senjata”.
Avaaz, yang merujuk pada investigasi sebelumnya, mendesak Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk membawa pihak-pihak yang bertanggung jawab ke pengadilan. Hingga laporan ini dipublikasikan, militer penjajah belum memberikan tanggapan resmi.
Di sisi lain, investigasi independen mengungkap adanya kontradiksi antara klaim resmi dan fakta di lapangan. Pihak penjajah sempat menyatakan tidak ada pasukan di lokasi kejadian, sebelum kemudian mengklaim bahwa ratusan lubang peluru di kendaraan sipil merupakan hasil baku tembak.
Namun analisis citra satelit dan rekaman audio oleh tim Forensic Architecture justru menunjukkan keberadaan tank Merkava di sekitar lokasi, tanpa bukti adanya baku tembak seperti yang diklaim.
Laporan Avaaz juga menyoroti bahwa ambulans yang menjadi target telah memperoleh izin resmi dari otoritas militer penjajah. Artinya, pergerakan tim medis diketahui secara rinci, mulai dari waktu hingga rute yang ditempuh.
Sekitar tiga jam setelah serangan awal terhadap kendaraan sipil, ambulans tersebut dihantam tembakan. Rentang waktu itu, menurut laporan, cukup untuk menunjukkan adanya kesadaran penuh dalam pengambilan keputusan di lapangan.
Serangan itu dinilai bukan tembakan peringatan, melainkan tindakan yang menunjukkan penargetan langsung.
“Saya telah mempelajari investigasi yang dilakukan oleh sejumlah lembaga jurnalistik independen. Saya benar-benar terkejut dengan bukti-bukti di akhir insiden mengerikan ini,” kata Sarah Andrew, direktur hukum Avaaz.
“Secara khusus, jenis senjata yang digunakan pada ambulans, waktu kejadian, dan fakta bahwa tidak ada peringatan yang diberikan – hal itu langsung memicu pertanyaan di benak saya, dan saya benar-benar yakin bahwa ini adalah kasus penembakan ganda.”
Ia menambahkan bahwa kasus ini harus dibawa ke hadapan pengadilan internasional.
“Kami belum mendapat kabar dari orang-orang yang bertanggung jawab. Saya ingin mereka hadir di hadapan ICC dan mendengar apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka ketika mereka memerintahkan penembakan peluru tank 120mm ke sebuah ambulans,” katanya.
“Ini adalah sesuatu yang belum mendapat perhatian, dan kami ingin membahasnya dengan mitra [hukum independen] di hadapan ICC.”
Sementara itu, ahli hukum dari Universitas Lancaster, Profesor James Sweeney, menilai serangan terhadap ambulans tetap merupakan pelanggaran serius, terlepas dari perdebatan teknis mengenai definisi “double tap”.
“Ringkasan [Avaaz] menyatakan bahwa serangan terhadap ambulans harus dianggap sebagai serangan ganda, tetapi biasanya serangan kedua akan terjadi dalam waktu lima hingga 20 menit dan akan dianggap sebagai tipuan,” katanya.
“Tampaknya [dalam kasus ini] selang waktunya lebih lama, tetapi itu tidak mengurangi fakta bahwa serangan terhadap ambulans itu sangat melanggar hukum. Anda bisa melihatnya sebagai bentuk serangan ganda, tetapi itu bukan pemahaman saya yang biasa. Namun bagaimanapun, itu tidak mengurangi fakta bahwa ini adalah kejahatan perang.”
Yayasan Hind Rajab pun menyatakan akan terus mendorong proses hukum terhadap pihak yang terlibat.
“Kami memiliki 24 nama pelaku yang bertanggung jawab. Kami terbuka untuk bekerja sama dengan Avaaz dalam pengajuan tuntutan khusus terkait serangan terhadap ambulans.”
Tragedi Hind Rajab: Suara yang Terhenti di Dalam Mobil
Pada jam-jam terakhir hidupnya, 29 Januari 2024, suara seorang anak perempuan berusia lima tahun terdengar lemah di ujung telepon. Hind Rajab memohon bantuan kepada ibunya dan petugas darurat, terjebak di dalam mobil yang dikelilingi jenazah enam anggota keluarganya.
Setelah izin akhirnya diberikan oleh militer penjajah, ambulans Bulan Sabit Merah melaju untuk menyelamatkannya. Sirene meraung, harapan masih tersisa.
Namun harapan itu dihentikan oleh tembakan tank. Dua paramedis tewas di tempat.
Dua belas hari kemudian, jenazah Hind ditemukan bersama delapan korban lainnya.
Kisah itu menjadi salah satu simbol paling menyayat dari perang yang tak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memutus suara-suara kecil yang tak sempat diselamatkan.
Artikel ini ditulis oleh:
Andry Haryanto

















