Jakarta, aktual.com – Sejarah peradaban Islam mengabadikan sosok Imam Malik sebagai samudera ilmu sekaligus penjaga kebenaran yang tak tergoyahkan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang memegang teguh prinsip, berani menyuarakan kebenaran, dan sangat menjaga jarak dari gemerlap duniawi.
Di masa yang sama, tampuk kepemimpinan umat Islam berada di tangan Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Daulah Abbasiyah. Kekuasaannya begitu luas dan melegenda, hingga dalam sebuah riwayat beliau pernah berseru kepada gumpalan awan di angkasa:
أَمْطِرِي حَيْثُ شِئْتِ فَإِنَّ خَرَاجَكِ سَيَأْتِينِي
“Wahai awan, hujanlah di mana saja engkau mau, karena hasilnya pasti akan kembali kepadaku.”
Ucapan ini menjadi simbol betapa besarnya pengaruh dan wilayah kekuasaan yang beliau pimpin.
Suatu ketika, sang Khalifah mendatangi Masjid Nabawi dengan maksud menghadiri majelis ilmu yang diampu oleh Imam Malik guna menyimak hadis-hadis Rasulullah ﷺ. Di sana, khalayak ramai telah bersiap menyambut kehadiran sang Imam. Saat majelis hendak dimulai, para pengawal khalifah berinisiatif meninggikan posisi tempat duduk Harun Ar-Rasyid agar terlihat lebih utama dibandingkan jemaah lainnya.
Tindakan ini memicu ketidaksenangan dalam diri Imam Malik. Dengan penuh wibawa, beliau memberikan teguran keras kepada sang penguasa dengan membacakan sebuah hadis qudsi:
الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ
“Kesombongan adalah pakaian-Ku dan keagungan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.”
Tak berhenti di situ, Imam Malik juga mempertegas nasihatnya dengan mengutip sabda Nabi Muhammad ﷺ:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari kesombongan.”
Mendengar peringatan yang menggetarkan tersebut, Harun Ar-Rasyid diliputi rasa takut yang mendalam. Beliau seketika meninggalkan kursi tingginya, lalu turun untuk duduk bersimpuh di lantai, sejajar dengan Imam Malik dan para pencari ilmu lainnya.
Peristiwa ini menjadi cermin nyata tentang keberanian seorang ulama dalam meluruskan penguasa tanpa rasa takut. Di sisi lain, hal ini membuktikan kemuliaan hati seorang pemimpin yang bersedia tunduk pada kebenaran. Inilah potret sejati ulama rabbani; sosok yang tidak silau oleh harta, tidak gentar oleh takhta, dan hanya mendambakan rida Allah semata.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















