SANAA, 28 Februari (Xinhua) -- Pemimpin Houthi, Abdulmalik al-Houthi, pada Sabtu (28/2) malam waktu setempat mengatakan kelompoknya menyatakan solidaritas penuh dengan Iran dan "sepenuhnya siap menghadapi segala perkembangan." Abdulmalik juga menyerukan kepada para pendukungnya untuk menggelar demonstrasi massal di Sanaa dan provinsi-provinsi lainnya.
SANAA, 28 Februari (Xinhua) -- Pemimpin Houthi, Abdulmalik al-Houthi, pada Sabtu (28/2) malam waktu setempat mengatakan kelompoknya menyatakan solidaritas penuh dengan Iran dan "sepenuhnya siap menghadapi segala perkembangan." Abdulmalik juga menyerukan kepada para pendukungnya untuk menggelar demonstrasi massal di Sanaa dan provinsi-provinsi lainnya.

Jakarta, aktual.com — Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman secara terbuka terlibat dalam konflik Iran dengan melancarkan serangan langsung ke Israel. Keterlibatan ini menandai perluasan konflik ke front baru di kawasan.

Berdasarkan laporan Reuters, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran pada Sabtu (28/3/2026) meluncurkan serangan perdana ke Israel sejak konflik pecah. Aksi ini kemudian berlanjut dengan serangan berikutnya.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan eskalasi tersebut belum akan berhenti.

“akan ada serangan berikutnya”.

Keterlibatan Houthi membuka medan konflik baru sekaligus meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional, khususnya di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb—jalur strategis menuju Terusan Suez.

Di saat yang sama, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan dengan mengirimkan ribuan marinir, termasuk melalui kapal serbu amfibi.

Laporan The Washington Post juga mengungkap bahwa Pentagon tengah mempertimbangkan opsi operasi darat di Iran dalam beberapa pekan ke depan. Rencana tersebut disebut dapat melibatkan pasukan khusus hingga infanteri reguler, meski keputusan akhir masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa tujuan strategis sebenarnya bisa dicapai tanpa operasi darat, namun pengerahan pasukan tetap dilakukan untuk memberi fleksibilitas kebijakan kepada pemerintah.

Sementara itu, eskalasi konflik terus meluas. Israel dilaporkan menyerang fasilitas produksi senjata di Teheran dan target di Lebanon, yang mengakibatkan korban jiwa termasuk jurnalis dan personel militer. Serangan lanjutan bahkan disebut turut menyasar tim penyelamat.

Iran merespons dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah kawasan Teluk. Selain itu, serangan drone juga dilaporkan terjadi di Irak, termasuk di sekitar kediaman tokoh penting Kurdi.

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari melalui serangan gabungan AS dan Israel ke Iran kini telah menimbulkan ribuan korban jiwa serta mengguncang perekonomian global akibat terganggunya pasokan energi.

Gangguan tersebut terutama dipicu oleh ketidakstabilan di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima kebutuhan minyak dan gas dunia. Ancaman kini semakin meluas dengan potensi gangguan di Bab el-Mandeb jika serangan Houthi terus berlanjut.

Di tengah situasi yang memanas, upaya diplomasi mulai digerakkan. Pakistan dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan yang melibatkan menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir untuk meredakan ketegangan.

Namun demikian, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. Iran menegaskan akan memberikan respons keras apabila infrastruktur strategis atau pusat ekonominya kembali menjadi target serangan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain