Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py.
Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py.

Jakarta, Aktual.com – Pemerintah Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 wajib memberikan visa kepada tim nasional sepak bola Iran, terlepas dari ketegangan politik yang masih berlangsung antara kedua negara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pihaknya tengah melakukan berbagai upaya diplomatik untuk memastikan tidak ada hambatan administratif bagi timnas Iran dalam mengikuti turnamen tersebut.

“Para pemain kami akan berangkat ke Amerika Serikat semata-mata untuk Piala Dunia,” kata Baghaei, Rabu (6/5), seperti dikutip dari Anadolu.

Ia menegaskan bahwa negara tuan rumah memiliki kewajiban untuk menjamin penerbitan visa tanpa mempertimbangkan faktor politik. Menurutnya, partisipasi Iran dalam ajang sepak bola dunia tidak boleh dipengaruhi konflik bilateral.

“Negara tuan rumah harus memiliki komitmen yang jelas untuk menjamin visa anggota tim Iran diterbitkan tanpa mempertimbangkan masalah politik,” ujarnya.

Baghaei juga berharap FIFA mengambil langkah tegas untuk menjaga integritas kompetisi. Ia menyebut adanya narasi yang mempertanyakan kelayakan Iran tampil di Piala Dunia berpotensi merusak kredibilitas federasi sepak bola dunia tersebut.

Di sisi lain, Presiden FIFA, Gianni Infantino, memastikan Iran tetap akan berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026 dan memainkan pertandingan di wilayah Amerika Serikat.

“Tentu saja Iran akan berpartisipasi di Piala Dunia FIFA 2026. Dan tentu saja Iran akan bermain di Amerika Serikat,” ujar Infantino, seperti dikutip dari The Guardian.

Ia menekankan pentingnya menjaga semangat persatuan melalui olahraga, meskipun terdapat dinamika geopolitik yang kompleks.

Piala Dunia 2026 akan digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pada 11 Juni hingga 19 Juli. Iran dijadwalkan bertanding di Los Angeles melawan Selandia Baru pada 15 Juni dan Belgia pada 21 Juni, sebelum menghadapi Mesir di Seattle pada 26 Juni.

Namun, partisipasi Iran sempat menjadi polemik. Utusan Khusus AS untuk Kemitraan Global, Paolo Zampolli, sebelumnya mengusulkan agar Italia menggantikan Iran dalam turnamen tersebut.

“Saya telah menyarankan kepada Presiden Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino agar Italia menggantikan Iran di Piala Dunia,” kata Zampolli kepada Financial Times, dikutip dari Sputnik/RIA Novosti.

Usulan tersebut muncul di tengah ketegangan geopolitik antara Iran dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya. Namun hingga kini, FIFA tetap mempertahankan Iran sebagai peserta resmi yang telah lolos kualifikasi.

Sementara itu, dari pihak pemerintah AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa Washington tidak keberatan dengan kehadiran pemain Iran, dengan syarat tidak melibatkan individu yang memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Situasi semakin kompleks dengan kebijakan Kanada yang melarang masuk individu yang berafiliasi dengan IRGC, sehingga mempengaruhi mobilitas delegasi Iran dalam agenda resmi FIFA.

Meski demikian, Iran menegaskan akan menggunakan seluruh jalur diplomatik yang tersedia, termasuk melalui perwakilan di Washington di bawah perlindungan Kedutaan Besar Pakistan, untuk memastikan partisipasi tim nasionalnya tetap berjalan.

Sumber: Anadolu, The Guardian, Sputnik/RIA Novosti

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi