Jakarta, Aktual.com – Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 19–20 Mei 2026, hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Kementerian Luar Negeri China menyatakan kunjungan tersebut dilakukan atas undangan langsung Xi Jinping.
“Presiden Rusia Vladimir Putin akan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 19–20 Mei 2026,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari ANTARA di Beijing, Sabtu.
Lawatan Putin berlangsung hanya empat hari setelah kunjungan Trump ke China pada 13–15 Mei 2026, menandai intensitas tinggi diplomasi global di Beijing dalam waktu berdekatan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan komunikasi antara Beijing dan Moskow terus berlangsung menjelang pertemuan kedua pemimpin.
“Kami akan merilis informasi lebih lanjut pada waktunya,” ujarnya.
Sementara itu, Kremlin melalui juru bicaranya Dmitry Peskov memastikan kunjungan Putin telah memasuki tahap akhir persiapan.
“Persiapannya sudah selesai, hanya tinggal sentuhan akhir. Ini akan berlangsung dalam waktu dekat,” kata Peskov.
Pertemuan terakhir antara Putin dan Xi berlangsung secara langsung pada KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Tianjin pada Agustus–September 2025. Keduanya juga sempat melakukan komunikasi virtual pada Februari 2026.
Di tengah dinamika global, Putin menegaskan hubungan Rusia–China menjadi faktor kunci stabilitas internasional.
“Kerja sama antara Rusia dan China merupakan faktor pencegahan dan stabilitas yang jelas dalam urusan global,” ujar Putin dalam konferensi pers, dikutip dari kantor berita internasional.
Ia juga menekankan bahwa China merupakan mitra dagang terbesar Rusia, dengan kerja sama yang terus berkembang, termasuk di sektor teknologi tinggi serta energi minyak dan gas.
Selain membahas hubungan bilateral, Putin juga menyinggung konflik Ukraina. Ia menyatakan kesiapan bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di negara ketiga, namun hanya untuk menandatangani kesepakatan damai final.
“Ini harus menjadi titik akhir, bukan proses negosiasinya sendiri,” tegasnya.
Jika kunjungan ini terealisasi, China akan menjadi negara pertama yang dalam beberapa bulan terakhir menjamu hampir seluruh pemimpin negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, termasuk Rusia, Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.
Sumber: ANTARA, pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China, Kremlin, serta laporan kantor berita internasional.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















