Ilustrasi kapal tanker melintasi selat. Aktual/HO

Jakarta, Aktual.com – Kapal-kapal China mulai melintasi Selat Hormuz di bawah pengaturan Iran, menandai perubahan dinamika di jalur energi global yang sempat terganggu akibat konflik kawasan.

Kantor berita Fars News Agency melaporkan, Kamis (14/5), kapal-kapal tersebut diizinkan melintas sejak Rabu malam setelah mematuhi “protokol pengelolaan selat” yang diterapkan Iran.

Sumber yang mengetahui hal tersebut menyebut pelayaran kapal China difasilitasi melalui kemitraan strategis antara China dan Iran, termasuk komunikasi tingkat tinggi antara pejabat kedua negara.

Laporan Tasnim News Agency menyebut sedikitnya 30 kapal telah melintasi jalur tersebut di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam.

Data pelacakan dari platform MarineTraffic juga menunjukkan sedikitnya empat kapal terkait China melewati selat itu dalam 24 jam terakhir melalui koridor pelayaran yang diklaim aman oleh Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia. Namun, sejak eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang melibatkan Israel pada Februari lalu, akses selat tersebut sempat terbatas dan mengganggu arus energi global.

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April, meski belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Gencatan tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden Donald Trump.

Sebelumnya, Presiden Xi Jinping dan Donald Trump sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga kelancaran pasokan energi global.

Dalam pertemuan di Beijing, kedua pemimpin juga membahas situasi Iran serta menegaskan penolakan terhadap militerisasi selat. China turut menyatakan minat meningkatkan impor energi dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan pada jalur tersebut.

Selain isu energi, kedua negara menyoroti kerja sama ekonomi, termasuk akses pasar, investasi industri, serta pengendalian aliran prekursor fentanyl.

Sementara itu, kantor berita Xinhua melaporkan Xi mengingatkan potensi konflik jika isu Taiwan tidak dikelola dengan baik, seraya menegaskan pentingnya hubungan bilateral yang stabil dan konstruktif ke depan.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi