Turkish President Recep Tayyip Erdogan speaks during the 51st session of the Council of Foreign Ministers of the Organization of Islamic Cooperation in Istanbul, June 21, 2025. (Yasin Akgul/AFP

Jakarta, Aktual.com — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Israel sebagai dalang utama instabilitas di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan pada Sabtu (16/5) sepulang dari kunjungan kenegaraan ke Kazakhstan.

“Provokasi Israel yang hingga kini masih berlangsung menjadi salah satu alasan utama krisis ini muncul,” ujar Erdogan kepada wartawan, seperti dikutip dari Sputnik.

Menurut Erdogan, Israel berulang kali menunjukkan kesediaannya menggoyahkan stabilitas kawasan demi kepentingan sendiri. Pemerintah Turki menilai langkah utama untuk meredakan ketegangan adalah dengan “menetralisir provokasi Israel” sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.

Ia juga menegaskan bahwa berbagai persoalan di kawasan seharusnya diselesaikan oleh negara-negara regional tanpa campur tangan pihak luar. Ankara, lanjut Erdogan, akan terus berupaya mencegah eskalasi konflik serta memperkuat stabilitas kawasan.

Erdogan turut mengimbau negara-negara di Timur Tengah untuk mengesampingkan kepentingan politik jangka pendek dan lebih mengutamakan kepentingan nasional dibanding kepentingan asing atau perusahaan multinasional.

Sementara itu, situasi di Jalur Gaza dilaporkan kembali memanas. Pasukan Israel terus melancarkan serangan artileri dan tembakan senjata berat ke sejumlah wilayah, termasuk bagian timur dan selatan Khan Younis.

Sumber lokal menyebutkan bahwa artileri Israel menghantam wilayah timur dan selatan kota tersebut, sementara kendaraan militer di sekitar perbatasan terus melepaskan tembakan intensif. Serangan juga dilaporkan menyasar wilayah timur kamp pengungsi Al-Bureij, memicu kepanikan warga.

Di Gaza City, kapal angkatan laut Israel turut melepaskan tembakan ke arah garis pantai, meski belum ada laporan resmi terkait korban luka.

Data medis setempat mencatat jumlah korban tewas akibat konflik sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, dengan 172.535 lainnya mengalami luka-luka. Dalam 24 jam terakhir, rumah sakit di Gaza menerima lima korban tewas dan 15 korban luka.

Sejak diberlakukannya gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, jumlah korban tewas dilaporkan mencapai 850 orang, sementara 2.433 lainnya terluka. Selain itu, sebanyak 770 jasad ditemukan dari bawah reruntuhan bangunan.

Tim medis menyebut masih banyak korban yang terjebak di bawah puing-puing dan belum dapat dievakuasi akibat keterbatasan akses bagi ambulans dan tim penyelamat.

Sumber: Sputnik; WAFA-OANA

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi