Denpasar, Aktual.com — Ahli genetika dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsul Arifin Zein mengemukakan, bahwa keragaman genetik “curik” bali (Leucopsar rothschildi) saat ini cenderung homogen.

“Homogen itu, artinya nilai keragamannya rendah sehingga diperlukan upaya perbaikan sehingga bisa diperbaiki kualitas genetika menjadi lebih beragam,” ungkap Ir. M. Syamsul Arifin Zein, M.Si., peneliti bidang genetika dan molekuler Pusat Penelitian Biologi LIPI, di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Sabtu (3/10).

Usai memaparkan hasil riset timnya di LIPI pada lokakarya antarbangsa “curik bali” (jalak bali) dengan tema “Conservation of Bali Mynah (Leucopsar rothschildi): in the Past, Present and Future”, dia menyatakan dalam populasi kecil sering satwa seperti jalak bali memiliki derajat keragaman genetik yang rendah.

Kondisi itu, kata Syamsul Arifin Zein, disebabkan makin sedikit jumlah individu dalam populasi, makin tinggi peluang terjadinya perkawinan antarsesama individu yang mempunyai hubungan keluarga dekat atau silang dalam (inbreeding).

Individu dikatakan saling berkerabat, kata Syamsul, apabila individu-individu tersebut mempunyai moyang bersama (common ancestor) dalam empat sampai enam generasi pertama dari silsilahnya.

Apabila keturunan yang dihasilkan kemudian dikawinkan dengan tetuanya sendiri, kata dia, tingkat “inbreeding” akan makin meningkat “Keragaman genetik yang rendah biasanya berhubungan dengan ketidaknormalan secara fisiologi dan fisik, misalnya terjadinya cacat sperma dan fenomena albino,” katanya.

Hal itu, menurut Syamsul, dapat menyebabkan “performans” reproduksi yang menurun, dan suatu saat akan berakibatkan kepunahan.

Merujuk pada riset (Frankel & Soule, 1981), dia menjelaskan bahwa hasil percobaan terhadap ternak telah menunjukkan bahwa perkawinan dalam keluarga mengakibatkan populasi ternak mengalami kematian 85–95 persen setelah generasi kedelapan.

Pada penelitian (Frankhan & Briscoe, 2002), kata dia, kondisi demikian juga terjadi pada populasi burung puyuh dengan jumlah 338 ekor yang dikawinkan dengan sistem perkawinan keluarga (brother-sister mating) tenyata musnah setelah generasi keempat.

Populasi dalam suatu penangkaran, lanjut Syamsul, populasinya adalah sangat kecil. Keragaman genetik umumnya berupa “gen pool” dari “founder” individu-individu yang ditangkap.

Hilangnya keragaman genetik dari suatu populasi dalam penangkaran, kata dia, dapat dikurangi melalui perkawinan antarindividu yang memiliki tingkat kerabat jauh.

Hal itu dapat dicapai melalui upaya seperti membandingkan struktur genom dari individu-individu dalam penangkaran, mengidentifikasi kekerabatan antar-“founder” dan hubungan tetua dari anak-anaknya, kemudian memilih pasangan kawin yang tepat.

Perbandingan struktur genetik antarindividu, kata dia, dapat dilakukan dengan analisis DNA dari gen-gen yang spesifik.

Saat memaparkan penelitian berjudul “Pemahaman Variasi Genetik Intraspesifik Dan Identifikasi Jenis Kelamin dengan Teknik DNA Molekuler untuk Program Konservasi Burung Curik Bali yang Efektif” bersama tim Puslit Biologi LIPI bersama sejawatnya Sri Sulandari, Anik Budhi Dhamayanthi, dan M. Nurjito, dia juga membahas tema analisis keragaman genetik dengan DNA Mitokondria (mtDNA).

Ia menjelaskan bahwa mtDNA memiliki laju evolusi 5–10 kali lebih cepat daripada DNA inti, sedangkan dengan DNA mikrosatelit/Finger print analysis, mutasi yang disebabkan perubahan jumlah ulangan dari runtunan basa bergandengan sangat tinggi, yaitu mencapai 10–3/gamet/generasi.

Pada bahasan uji statistik dengan merujuk “Uji Fu dan Li” (1993) dilakukan untuk menguji hipotesis mutasi netral pada polimorfisme DNA. Hasilnya, nilai Fu’s Fs negatif (-1,832). Namun, sudah mendekati nilai nol (netral), yang berarti populasi sudah “inbreeding”.

Ditegaskan Syamsul bahwa sekali hubungan genetik diketahui maka individu dapat dipilih untuk perkawinan yang tepat supaya mengurangi “inbreeding”.

Sekali hubungan genetik diketahui, program dapat dirancang untuk memilih pasangan terbaik untuk dikawinkan.

“Ini, jika mungkin, dapat dilakukan melalui pertukaran sementara ‘founder’ antarkebun binatang,” katanya.

Jika sudah kebanyakan individu dalam penangkaran, pilih pasangan individu paling cocok untuk dikembalikan ke habitat aslinya, demikian M. Syamsul Arifin Zein.

Lokakarya antarbangsa tentang “curik bali” berlangsung 1-4 Oktober 2015 diikuti peneliti dan pegiat konservasi dari berbagai negara, baik dari Asia maupun Eropa.

Artikel ini ditulis oleh: