Palu, aktual.com – Akademikus dari Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Arifuddin M Arif, MPd, mengemukakan sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah tingkat SD, SMP dan SMA sederajat di Sulteng seharusnya terintegrasi dengan program di Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melindungi pelajar dari narkoba.

“Salah satu upaya pencegahan lewat pendidikan ialah mengintegrasikan sekolah dengan BNN, antara materi pembelajaran dan program BNN,” ucap Arifuddin M Arif MPd, di Palu, Jumat (10/1).

Pernyataan Arifuddin M Arif merupakan tanggapan atas data BNN Provinsi Sulteng yang menyebut bahwa sepanjang Tahun 2019 terdapat 816 anak berstatus pelajar telah terkontaminasi barang haram narkoba.

BNNP Sulteng merinci jumlah tersebut terdiri dari pelajar tingkat SD sederajat 149 orang, tingkat SMP sederajat 327 orang dan SMA sederajat 340 orang.

Karena itu, Arif sapaan akrab Arifuddin M Arif, menyebut pendekatan pereventif perlu dilakukan untuk memperkuat sistem pendidikan secara integratif di sekolah.

“Membangun kerja sama dengan pihak BNN dan yang terkait, untuk terus mengafirmasi bahaya narkoba di kalangan pelajar secara berkesinambungan di sekolah serta melibatkan orangtua. Bahkan mungkin dalam waktu tertentu ada tes urine bagi pelajar dan warga sekolah. Hal ini mungkin bisa efektif sekligus sebagai shock terapi bagi mereka,” kata dia.

Ia mengemukakan, banyaknya pelajar yang terkontaminasi dengan narkoba berdasarkan data BNNP Sulteng tersebut, tentu ada keprihatinan yang sangat besar.

“Kondisi ini harus cepat diantisipasi. Karena kalau tidak, maka ini bisa menjadi trend yg sangat mengancam masa depan generasi kita,” ujar dia.

Karena itu, menurut dia, langkah strategis yang harus segera dilakukan adalah melakukan pembinaan secara intensif kepada mereka yang terindikasi dan terkontaminasi.

“Ini harus diikutkan dengan melakukan pengawasan secara intensif dengan membangun kerja sama, baik pihak sekolah, orangtua dan pihak terkait, seperti BNN dan kepolisian, bahkan dengan warga sekitar sekolah,” ujarnya.

(Eko Priyanto)