Suasana bongkar muat di Pelabuhan Indonesia, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (22/11/2018). Lembaga kajian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan pertumbuhan ekspor Indonesia pada tahun depan berpotensi tertekan seiring masih melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi negara-negara yang menjadi tujuan ekspor utama Indonesia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa, diperkirakan akan mengalami perlambatan tahun depan. AKTUAL/Tino Oktaviano

Bandar Lampung, Aktual.com – Akademisi Universitas Lampung (Unila) Dr. Nairobi S.E., M.Si. mengatakan dalam lima tahun ke depan pemerintah harus dapat memperbanyak ekspor dan mengurangi impor untuk mengantisipasi defisit transaksi berjalan.

“Negara kita dipredikisi oleh Bank Dunia akan mengalami defisit transaksiberjalan, karena itu pemerintah harus dapat meningkatkan ekspor barang dan jasa,” kata dia, di Bandarlampung, Ahad (20/10).

Menurutnya, pemerintah harus bisa menahan pihak-pihak yang akan mengimpor barang yang dianggap kurang penting agar dapat meminimalkan  defisit ini.

“Bukan tidak boleh mengimpor barang dari luar masuk ke dalam, akan tetapi kita harus memilih yang mana yang harus didahulukan dan dirasa sangat penting,” katanya.

Dia mengatakan, pemerintah perlu menguatkan kembali regulasi perekonomian karena sebagai pembuat aturan seharusnya pusat mampu memberikan dorongan kepada produsen dalam negeri agar produk mereka dapat bersaing di dunia internasional.

Menurut dia, saat ini Indonesia tidak bisa lagi mengekspor sebatas barang mentah tetapi sebaliknya bagaimana pemerintah harus bisa mengekspor barang siap pakai atau jadi ke luar negeri.

(Abdul Hamid)