Tokoh Malari 1974 Hariman Siregar memberikan Keynotespeaker dalam acara perayaan HUT Indemo ke 17 tahun dan 43 Tahun Peristiwa 15 Januari 1974 di hotel Bidakara, Jakarta, Minggu (15/1/2017). Dalam acara HUT Indemo ke 17 tahun dan 43 Tahun Peristiwa 15 Januari 1974 yang bertemakan *Menyikapi Perubahan, Kebangkitan Populisme* dan diskusi Lintas Generasi.

Jakarta, Aktual.com – Kondisi ekonomi Indonesia dinilai sudah semakin parah. Ekonom senior Rizal Ramli bahkan menyebut keadaan ekonomi sudah dekat dengan lampu merah.

Sejumlah kalangan pun telah mengingatkan pemerintah terhadap potensi krisis yang dihadapi Indonesia.

Kali ini, giliran aktivis senior Hariman Siregar yang angkat bicara tentang hal ini. Ia menilai, potensi krisis yang menghadang Indonesia ke depannya akan lebih dahsyat jika dibandingkan krisis pada 1997 silam.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang kian memburuk ini tampak sangat jelas jika dilihat kemampuan pemerintah dalam membayar utang luar negeri.

“Kemampuan bayar utang kita mengkhawatirkan,” katanya dalam sebuah diskusi bertajuk “Rakyat Miskin, Negara Terancam Bangkrut, Konsolidasi, Kita Bisa Apa?” di Jakarta Pusat, Selasa (28/8) kemarin.

Tokoh Peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) pada 1974 ini menambahkan, krisis ekonomi ini sudah berada di depan mata dengan semakin anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Jadi yang ditakutkan saat ini adalah kalau nanti dolar pecah ke 17 ribu atau 16 ribu. Pasti orang-orang narik uang,” ujarnya.

Jiika krisis ekonomi tersebut terjadi, lanjut Hariman, pasti lebih parah dari krisis ekonomi Indonesia tahun 1997. Sebab, saat ini tidak sedikit peredaran uang di dalam negeri dikuasai investor asing.

“Uang kita itu 40 persen lebih di tangan asing. Itu juga kesalahan pemerintah kita yang membolehkan orang asing membeli surat utang negara (SUN). Padahal di dunia manapun tidak boleh (asing beli SUN),” urai Hariman.

“Kalau bule-bule itu buang SUN, itu akan lebih parah dari tahun 97. Sekarang sudah lampu kuning. Kalau saya bilang lampu merah,” pungkasnya.

(Teuku Wildan)