Jakarta, Aktual.com – Calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berkomitmen untuk menyederhanakan rantai distribusi bahan pangan. Tujuannya, untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan harga tetap terjangkau oleh masyarakat. 

Tim Ekonomi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Arie Muftie mengatakan, rumitnya rantai distribusi komoditas pangan menjadi salah satu penyebab mengapa harga mahal di pasaran. 

Karena itu, pihaknya akan berupaya menciptakan rantai distribusi yang sederhana, terbuka dan berkeadilan.

“Sehingga harga pangan stabil dan terjangkau,” kata Arie dalam diskusi Indonesia Paska Jokowi ‘Masalah Ekonomi & Kedaulatan Pangan, Apa Solusinya?’ di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu, (13/2). 

“Kami banyak dengar cerita masyarakat yang mengeluh harga sembako mahal. Apa yang kami temui di 1.161 titik kunjungan itu riil, tapi pemerintah selalu berlindung dengan angka-angaka, mereka menyebut bahwa inflasi terjaga,” sambung dia. 

Tak hanya menciptakan rantai distribusi sederhana dan berkeadilan, Prabowo-Sandi juga berkomitmen untuk tidak melakukan impor pangan khususnya saat panen. Arie menilai, maraknya impor pangan di era Jokowi menjadi salah satu penyebab nilai tukar petani menurun di banding era SBY.

“Banyak petani yang justru tidak gembira saat jelang panen, mereka was-was, takut kalau harga komoditas yang mereka tanam tiba-tiba anjlok saat panen akibat impor,” kata Arie.

Masih kata Arie, kebijakan menghentikan impor pangan juga dilakukan untuk memberantas mafia pangan yang tumbuh subur sejak paska reformasi.

“Kami menilai problem yang sedemikian kompleks di ekonomi ini bukan problem sektoral, tapi problem fundamental, problem kepemimpinnan nasional. Jadi aneh, bahwa seorang presiden membiarkan meterinya melakukan impor gila-gilaan di saat petani sedang panen,” kata Arie. 

(Fadlan Butho)