Kelompok oposisi Malaysia Aksi protes penundaan sidang khusus parlemen di Dataran Tinggi, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (2/8).
Kelompok oposisi Malaysia Aksi protes penundaan sidang khusus parlemen di Dataran Tinggi, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (2/8).

Jakarta, Aktual.com – Hampir seluruh anggota parlemen oposisi Malaysia berkumpul di Dataran Merdeka pagi ini, Senin (2/8), untuk memprotes penundaan sidang khusus Dewan Rakyat yang seharusnya berlangsung hari ini.

Para pemimpin partai oposisi seperti Anwar Ibrahim dari PKR, Mahathir Mohammad dari Partai Pejuang, Mohamad Sabu dari Partai Amanah Negara, Shafie Apdal dari Partai Warisan, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman dari Partai Muda, dan Sekretaris Jenderal DAP, Lim Guan Eng tampak hadir di alun-alun itu sejak pukul 9 pagi, sambil membentangkan spandung ‘Mahiaddin dan Kabinet Letak Jawatan’.

Menurut Sekretaris Jenderal PKR, Saifuddin Nasution, para anggota parlemen akan berjalan ke gedung Parlemen dan berusaha untuk memasuki kompleks tersebut.

Sebelumnya, keputusan pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Muhyiddin Yassin untuk membatalkan sidang khusus Dewan Rakyat pada menit terakhir mendapat kritik. Oleh karena itu, para anggota parlemen oposisi pun menuntut pemerintah Perikatan Nasional dan PM Muhyiddin Yassin untuk keluar dari Putrajaya.

Alasan penundaan sidang parlemen tersebut karena ada sejumlah kasus positif Covid-19 yang terdeteksi di dalam kompleks parlemen. Karena itu, Muhyiddin Yassin memutuskan untuk menunda sidang guna menghindari penyebaran virus lebih lanjut di parlemen.

Keputusan penundaan tersebut diumumkan pada tanggal 31 Juli 2021 lalu yang menyatakan sidang parlemen pada 2 Agustus 2021 ditunda hingga tanggal yang tak ditentukan, sesuai dengan Tata Tertib Dewan Rakyat 11(3), mengikuti saran dari Direktur Jenderal Kesehatan Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah.

Kesal dengan penundaan Parlemen, Syed Saddiq menggambarkan pemerintah sebagai pemerintahan yang paling “korup dan bangkrut secara moral” di Malaysia.

“Mereka bilang pemuda tidak bisa protes di Dataran Merdeka. Tapi ketika anggota parlemen yang dipilih oleh rakyat ingin bersuara di parlemen, mereka menutup parlemen. Kalau ini bukan pemerintahan yang pengecut, maka saya tidak tahu apa itu,” katanya, dikutip dari Straits Times, Jakarta, Senin (2/8).

Sementara itu, Mukhriz Mahathir mengklaim bahwa pemerintah hampir tidak bertahan. Ia menambahkan bahwa alasan mereka memilih untuk menutup Parlemen adalah untuk menghindari mosi tidak percaya.

“Mereka khawatir Muhyiddin akan digulingkan. Mereka khawatir mereka akan kehilangan kekuasaan. Mereka menghentikan kami memasuki Parlemen karena mereka takut kami akan menantang mereka untuk mosi tidak percaya,” katanya.

Shafie menunjukkan bahwa keputusan Yang di-Pertuan Agong untuk duduk di parlemen harus ditegakkan, menambahkan bahwa penolakan pemerintah untuk melakukannya membuktikan bahwa itu adalah “derhaka” (pengkhianatan) terhadap raja.

“Ketua Parlemen (Datuk Azhar Azizan Harun) berjanji pertanyaan kami akan dijawab pada hari Senin tetapi pemerintah membatalkannya pada menit terakhir,” katanya.

(A. Hilmi)