Dr. Mukhrij Sidqy, MA

Jakarta, aktual.com – Ketika terjadi konfrontasi antara Musa as dan Firaun (Penguasa dzalim), Firaun menggunakan jasa para penyihir untuk mengalahkan Musa as. Lalu para penyihir yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan itu melemparkan tali temali dan dan tongkat mereka. Karena banyaknya tali temali dan tongkat itu, sekejap Musa tertipu [يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ] matanya seperti melihat ular yang hidup [حية تسعى]. Bukan hanya tertipu pandangannya, bahkan Musa as dihinggapi rasa takut akibat ilusi penyihir tersebut [فَأَوْجَسَ فِى نَفْسِهِۦ خِيفَةً].

Dalam keadaan yang genting bagi Musa as itulah Allah swt menyadarkan Musa as dan mengatakan “Jangan takut wahai Musa” [لَا تَخَفْ]. Lalu Allah swt memerintahkan Musa untuk melemparkan tongkatnya seraya berfirman:

[وَأَلْقِ مَا فِى يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوٓا۟ ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا۟ كَيْدُ سَٰحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ]

dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang“.  [Thaha: 62]

Ternyata Musa as menyadari, yang dianggapnya menakutkan itu sejatinya tidak ada, hanya ilusi yang menipu mata. Jika awalnya Musa as takut berhadapan dengan Firaun itu wajar, sebab Firaun itu nyata, pengaruhnya, bala tentaranya dan kekuasaannya

[إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفْرُطَ عَلَيْنَآ], tetapi perbuatan penyihir itu hanya ilusi, sesuatu yang tidak ada yang seakan-akan ada, dan itulah yang digunakan Firaun pertama kali untuk melawan Musa as, dengan ilusi penyihir.

Sebenarnya sebelum terjadi konfrontasi antara Musa as dan koalisi Firaun-penyihir, Firaun terlebih dulu mengadakan dialog teologis dengan Musa as [قَالَ فَمَن رَّبُّكُمَا يَٰمُوسَىٰ], tetapi jelas dialog teologis itu hanya membuat malu Firaun dihadapan koalisi, staf dan rakyatnya, karena Firaun kalah telak dalam dialog teologis tersebut hingga tidak bisa berkata-kata banyak, tepatnya setelah Musa menjawab pertanyaan Firaun tentang nasib kaum terdahulu dengan jawaban skak ster.

Mungkin Firaun berfikir, jika logika Musa as -yang memang berdasarkan wahyu- tidak bisa dilawan, maka mungkin matanya-lah yang bisa ditipu, dan memang panca indera mudah tertipu, mata melihat lain, dan hati bisa berkata lain. Dan itulah yang terjadi antara Musa as ketika berhadapan dengan penyihir, lebih-lebih penyihir itu sangat banyak (kroyokan).

Dari kisah Musa, paling tidak kita mengetahui hakikat perbuatan penyihir itu hanya ilusi, menipu panca indera, membuat yang tidak ada seakan-akan nyata. Sayangnya, para penyihir ini sangat banyak, sehingga tambahlah tipu daya itu menjadi semakin terlihat nyata. Banyak orang tertipu penyihir, dan hanya yang memiliki tongkat Musa-lah yang mampu melawannya.

Ataupun sebenarnya tongkat itu juga tidak punya kesaktian apa-apa, hanya karena di tangan Musa as lah tongkat itu jadi istimewa. Yang pasti, Musa as dan tongkatnya adalah makhluk, dan sang khaliq lah yang memiliki kesatian sejati, yang mampu mengeluarkan kita dari tipu daya penyihir yang membuat ilusi. Tapi, siapakah para penyihir itu? Mudah saja, ciri-ciri mereka adalah yang mampu membuat yang tidak ada menjadi ada dan sebaliknya. Saat mereka semua kompak melamparkan tali-talinya, kita pasti akan tertipu.

Dr. Mukhrij Sidqy, MA

(Eko Priyanto)