Jakarta, Aktual.com – Pemimpin politik Malaysia, Anwar Ibrahim menyampaikan orasi budaya bertema: Ekonomi Manusiawi dalam peringatan haul Nurcholish Madjid atau Cak Nur ke-17 yang berlangsung Minggu (28/8) malam. Anwar menjelaskan sistem ekonomi manusiawi adalah sistem ekonomi yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat kecil, serta berhasil mengurangi angka kemiskinan dan tingkat kesenjangan di antara golongan kaya-miskin.

“Ekonomi manusiawi maknanya tidak boleh kita membolehkan kerusakan sistem dan perilaku korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan. Kita juga tidak membolehkan sistem yang memperkaya segelintir elite penguasa tetapi meminggirkan nasib dan kesejahteraan rakyat banyak,” ucapnya dalam orasi tersebut.

Menurut Anwar, kesuksesan sebuah sistem ekonomi dapat terukur dari pemerataan ekonomi yang dapat dihasilkannya. Dan salah satu indikatornya, ungkap dia, tentu dengan keberhasilan mengurangi kesenjangan yang terjadi di antara kelompok kaya dan masyarakat miskin.

“Sukses bagi suatu dasar konomi adalah pemerataan ekonomi. Mengurangi kemiskinan dan kesenjangan diantara si kaya dan si miskin,” sambungnya.

Anwar juga menyampaikan kenangannya atas sosok Cak Nur. Anwar menyebut Cak Nur membangun pemahaman tentang Keislaman di Indonesia dan memberikan inspirasi untuk menguatkan persatuan generasi muda Islam di Kawasan Asia Tenggara.

“Saya masih berusia 18 – 19 tahun lalu saat mengenal beliau (Cak Nur). Ketika itu beliau menjadi Ketua Umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Kemudian saya menemui beliau di sini (Indonesia), mengikuti beberapa training. Kemudian saya undang beliau ke Malaysia. Lalu Kami bersama membangun Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara. Cak Nur sebagai Ketuanya dan saya sebagai Sekjennya,” kenang Anwar.

Selama membangun karir politik dan pemerintahannya, mantan Wakil Perdana Menteri ini mengaku tetap berusaha terus mengikuti pemikiran-pemikiran Cak Nur. Menurutnya, walaupun beberapa pernyataan Cak Nur memunculkan polemik, namun pikiran dan ide Cak Nur masih sangat relevan bagi masyarakat hingga saat ini.

“Saya mengikuti pemikirannya yang memang lebih inklusif. Walaupun beberapa pernyataannya memang sempat menimbulkan ketegangan, namun ide dan pikirannya masih sangat relevan hingga hari ini,” tutur dia.

(Andy Abdul Hamid)