Tangkapan Layar Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Djono Albar Burhan saat mengikuti Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Jaringan Indonesia Muda (JIM) bertema Revitalisasi Peran Pemuda untuk Sawit Sehat Berkelanjutan (14/10).

Jakarta, Aktual.com – Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Djono Albar Burhan mengatakan minyak kelapa sawit dinilai lebih ramah lingkungan ketimbang minyak biji rapa atau minyak bunga matahari pada Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Jaringan Indonesia Muda (JIM) bertema Revitalisasi Peran Pemuda untuk Sawit Sehat Berkelanjutan (14/10).

“Penggunaan lahan minyak sawit hanya sebesar 17 persen dari total lahan 290 juta hektar. Jika dibandingkan dengan penggunaan lahan kedelai mencapai 43 persen. Produktivitas kelapa sawit juga paling tinggi dari minyak nabati lainnya yaitu 4,27 ton/ha.” kata Djono.

Djono melanjutkan, peran minyak kelapa sawit membuat harga produksi kebutuhan sehari-hari lebih terjangkau untuk masyarakat. “Semisal harga sampo untuk botol kecil jika menggunakan kelapa sawit harganya 10 ribu rupiah. Tapi kalau pakai minyak biji bunga matahari, harganya bisa naik jadi 30 ribu.” ujarnya.

Andriah Feby Misna selaku Direktur Bioenergi Kementerian ESDM juga mengatakan perkebunan kelapa sawit tidak menciptakan efek global warming yang tinggi. Minyak kelapa sawit pun dinilai memiliki berbagai kegunaan.

“Kelapa sawit mulai dari pelepah hingga buahnya bisa dimanfaatkan. Minyak kelapa sawit bisa dipakai sebagai biodiesel pengganti bahan bakar bensin juga untuk memasak.”

Pernyataan lain dari Wakil Sekretaris Jenderal GAPKI, Agam Fatchurrohman menyebutkan bahwa minyak kelapa sawit lebih sustainable atau berkelanjutan dibanding pertambangan dan minyak kedelai.

(Shavna Dewati/Arie)

(Arie Saputra)