Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi (tengah) saat menghadiri peluncuran Aplikasi SITEKBUN (Sistem Informasi Teknologi Perkebunan) yang dibuat oleh Puslitbangbun Kementan di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/10).
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi (tengah) saat menghadiri peluncuran Aplikasi SITEKBUN (Sistem Informasi Teknologi Perkebunan) yang dibuat oleh Puslitbangbun Kementan di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/10).

Bogor, Aktual.com – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi menghadiri peluncuran aplikasi Sistem Informasi Teknologi Perkebunan (SITEKBUN) di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Kementerian Pertanian (Puslitbangbun Kementan), Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/10).

Aplikasi yang dibuat oleh Puslitbangbun Kementan ini rencananya sudah bisa diunduh oleh masyarakat pengguna Android melalui Playstore dalam sepekan ke depan.

“Dalam satu minggu ke depan sudah bisa di-download melalui Playstore untuk Android,” kata Harvick yang juga didampingi Kepala pusat penelitian dan pengembangan perkebunan, Syafarudin dalam kunjungan kerjanya tersebut.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi saat menghadiri peluncuran Aplikasi SITEKBUN (Sistem Informasi Teknologi Perkebunan) yang dibuat oleh Puslitbangbun Kementan di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/10).
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi saat menghadiri peluncuran Aplikasi SITEKBUN (Sistem Informasi Teknologi Perkebunan) yang dibuat oleh Puslitbangbun Kementan di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/10).

Pada kesempatan itu, Wamentan turut mengapresiasi inovasi perkebunan berbasis informasi teknologi ini. Menurutnya, di era perkembangan teknologi saat ini, akses informasi dan data menjadi hal yang sangat penting.

“Inovasi teknologi ini sudah luar biasa. Hal ini penting sekali. Saya berharap ini lebih optimal, lebih bisa memperkenalkan kepada masyarakat agar kementerian kita jangan sampai dinilai kementerian yang masih berbasis teknologi yang kuno, tidak modern dalam mengakses data,” ujar Harvick.

Selain itu, ia menambahkan, kemudahan akses informasi dan data menjadi salah satu daya tarik para kaum muda untuk terjun ke profesi petani maupun pekebun. Mengingat, lanjutnya, para kaum milenial tersebut sangat akrab dengan perkembangan teknologi informasi.

Apalagi, saat ini jumlah petani di Indonesia masih didominasi oleh kalangan berusia 45 tahun ke atas atau 72 persen. Sementara 28 persen merupakan usia di bawah 45 tahun.

“Ini menjadi kekhawatiran kita sendiri bagaimana kita bisa membuat profesi petani ini lebih diminati anak-anak muda. Karena anak-anak muda sekarang ini sudah mudah sekali mengakses data secara daring mengenai profesi-profesi pertanian, baik yang off farm maupun on farm,” tutur tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) ini.

Harvick menjelaskan saat ini Kementerian Pertanian sedang mengejar berbagai inovasi teknologi yang lebih modern. Tak hanya itu, dirinya juga tengah menyiapkan sekolah-sekolah vokasi untuk mendukung regenerasi petani muda, seperti yang diharapkan oleh Presiden Joko Widodo.

“Untuk itu, saya sampaikan ke Pak Presiden, nggak usah khawatir Pak, InsyaAllah mudah-mudahan (regenerasi bisa tercapai), karena yang pertama tadi soal ruang lingkup pertanian sedang kita kejar, teknologi-teknologi. Terus sekolah-sekolah vokasi kita juga segera akan kita resmikan,” ungkapnya.

(A. Hilmi)