Home Khazanah Arbain Nawawi : Beriman Kepada Allah dan Istiqamahlah

Arbain Nawawi [21]: Beriman Kepada Allah dan Istiqamahlah

KH. Muhammad Danial Nafis MA.

 عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ”
(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”
(HR. Muslim)

Faedah, Tanbih dan Hikmah Hadits

Shahabat Abu Amr ra. meriwayatkan lima hadits, dan yang diriwayatkan oleh Imam Muslim hanya hadits ini saja.

Rasulullah saw. memerintahkan Abu amr ra. untuk mengatakan “Aku beriman kepada Allah” Padahal saat itu ia telah masuk Islam. Ini merupakan isyarat dari Rasulullah saw. untuk kita agar selalu tajdidul iman, senantiasa memperbaharui iman setiap hari. Caranya dengan Dzikir laa ilaaha illaa Allah. Baik bil lisan maupun bil bathin disertai tasdiq atau pembenaran, menjadikan kita semakin yakin akan keesaan dan keagungan Allah. Sehingga terdapat tambahan keimanan (ziadatul iimaan) dalam hati kita.

Selain terus diperbaharui, iman juga perlu dijaga (Hifdzul iman). Karena iman itu naik turun.

الإيمان يزيد و ينقص

Iman seorang hamba seringkali naik dan turun. Iman akan naik dengan ilmu dan amal sholeh. Dan akan anjlok dengan Jahl (kebodohan) dan kemaksiatan. sehingga harus dipertahankan level keistiqomahannya, karena istiqomah lebih baik dan utama dari seribu karomah.

اَلْإِسْـتِقَـامَةِ خَيْرٌ مِـنْ اَلْفِ كَــرَامَةٍ # ثُبُــوْتُ الْكـَـرَامَةِ بـِدَوَامِ الْإِسْـتِقـَـامَةِ

Istiqamah lebih utama dari seribu karomah, dan tumbuhnya karomah dengan menjaga Istiqamah (pepatah arab)

Adapun Puncak keistiqomahan bagi ahlu thoriqoh adalah konsisten mengingat Allah dalam dzikir lahir batin. Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk mengikat iman dengan konsistensi amal sholeh, sehingga keimanan kita tidak hanya menjadi buih-buih yang bertebaran tanpa ruh.

Jika ada yang bertanya-tanya “ahli thoriqoh kok tidak punya karomah, kok tidak sakti”. Padahal sesungguhnya istiqomah didalam menegakkan syariat dan sunnah Rasulullah saw. adalah inti karomah yang sesungguhnya yang diberikan Allah untuk HambaNya. Bukan kesakitan atau kedigdayaan seperti anggapan kebanyakan orang awam.

Jika kita lihat dari Hadits Rasulullah saw:

مَنْ أَخْلَصَ لِلهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا تَفَجَّرَتْ يَنَابِيْعُ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ

Barang siapa yang melakukan ‘ibadah dengan ikhlas selama 40 hari, maka muncul hikmah dari dalam hati melalui lisannya.
(HR. Abu Dawud)

Ini apabila istiqomah selama 40 hari, lalu bagaimana jika kita istiqomah menjalankan wirid asasi sampai bertahun-tahun?? pasti hikmah itu akan deras mengalir dari diri seorang salik. Jika tidak, maka bertanyalah kepada diri sendiri sudahkah kita istiqomah dalam berthariqah?

Salah satu puncak tanda keimanan dan kunci keberhasilan adalah istiqomah atau konsistensi dalam kebaikan. Amal sirri kita ini rahasia Allah. Biarkan terserah Allah mau mendudukkan kita dimana.

Siddi Abul Abbas Al Mursi ra. Berkata:
“Bukan merupakan kebanggaan bagi kami (Syadziliyah) jika diberikan kemampuan melipat bumi, menuju ke Mekkah dalam sekali kedip. Bagi kami, karomah yang paling utama adalah saat hamba mampu melipat dirinya dalam ketiadaan dan menggantinya dengan sifat Allah.”

Jadi, hakikat istiqomah itu adalah kita meneladani sifat Allah Al-Qoyyum. melatih diri untuk teguh pendirian dalam jalan kebaikan dan meresapi sifat-sifat Allah. Keistiqomahan yang sejati akan membawa kita kepada Tauhidul Af’aal, Asmaa’, Sifat, sampai kepada dzat. Jika kita sudah masuk kedalamnya, apapun yang dilihat dan dirasa akan kembali pada hakikat Allah.

Bagi seorang ahlu thariqah yang paling minimal dalam istiqomah adalah muroqobah, yaitu merasa dilihat dan diawasi oleh Allah. Sehingga muncul keteguhan dalam dirinya untuk taat kepada setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Semoga Allah memberikan Taufiq kepada kita dalam menjaga keimanan dan keistiqomahan dijalan-Nya. Aamin

Beberapa Respon Atas Pertanyaan Participants

Berthoriqoh tapi masih juga maksiat, harus bagaimana?

1. Ketika kita melakukan keburukan, segera susul dengan kebaikan agar keburukan tersebut dihapus oleh Allah.
2. Ibadah wajib berfungsi untuk memenuhi hak Allah. Sedangkan amal sunah itulah tambahan poin atau reward yang kita terima disisi Allah.
3. Berarti thoriqohnya masih kulitan. Karena pintu pertama dari thoriqah adalah taubat. Syarat taubat : ada penyesalan, mohon ampun dan mengakui kezaliman, berjanji tidak mengulangi lagi, menjauhi kelompok yang berpotensi mengajak kepada keburukan yang awal.

Introspeksi diri.
Wirid yang berkualitas akan membentuk karakter yang baik. Jika masih maksiat, artinya wirid dan bacaan Al Qurannya hanya bersandar pada shadr (dadanya) saja. hanya artifisal, niatnya masih tercampur, belum benar benar lillah.

Guru kita Maulana Yusri Hafizhahullah khatam Qur’an dalam tarawih ramadhan sampai 3-5x. Sebetulnya tidak ada standar untuk mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadhan. Namun mari kedepankan rasa malu. Kita berniat semoga Ramadhan ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Niat akan menjadi himmah / semangat yang luar biasa jika diistiqomahkan dan disertai rasa malu. Kyai Nafis menyarankan jika mampu ramadhan ini usahakan mengkhatamkan Al-Qur’an 2-3x ditambah membaca terjemah dan tafsir. Sebagai ahli thoriqah, harus membaca Al Quran setiap hari, minimalnya surat Yasin, Al Waqiah dan Al Mulk. Ini sudah ukuran paling minimal bagi salik.

Jangan mudah tergoda dengan keutamaan atau fadhilah suatu dzikir saja. Jangan mengatur Allah dengan keinginan-keinginan mu. Jika terlalu fokus dengan fadhilah, yang dapat hanya sebesar itu. namun jika ikhlas melakukannya, Allah akan memberi yang lebih baik. Rahmat Allah itu lebih utama dan lebih luas dari permohonan dan amal kita, sehingga jika ada persoalan apapun, pasrahkan. Karena Allah senang saat hambanya berdoa yang menunjukkan kedekatan. Ubah doa yang penuh pendiktean kita pada Allah menjadi pujian dan permohonan untuk besandar kepada Allah.

Minta tolonglah kepada Allah dengan sabar dan shalat. Kesabaran dalam permohonan pada Allah ketika diberi musibah, kita sudah mendapat satu pahala dan dihapusnya dosa-dosa. Karena salah satu tanda Allah mencintai hamba adalah dengan diberi ujian. Kehidupan adalah ujian. Semua ini rangkaian ujian. Setiap hembusan nafas kita ada takdir dan ujian.

Bersabarlah dikala ujian dan bersyukurlah disaat ujian pula .

Wallahu A’lam bisshawaab

RESUME KAJIAN DHUHA KITAB ARBAIN NAWAWI BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS Hafizhahullah
(Via zoom Cloud Meeting 06.45 – 08.35 WIB Selasa 28 Sya’ban 1441 / 21 April 2020)