KH. Muhammad Danial Nafis MA.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ : أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ
رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada sejumlah orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, mengajak pada kebaikan (makruf) adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan berhubungan intim dengan istri kalian adalah sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya lalu mendapatkan pahala di dalamnya? Beliau bersabda, “Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan yang haram, bukankah akan mendapatkan dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka ia mendapatkan pahala.”
(HR. Muslim)

Faedah, Tanbih dan Hikmah Hadits

Dari pertanyaan sahabat kepada Rasulullah saw dalam hadits di atas, ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran:

1. Adab sahabat pada Rasulullah saw. Ini menunjukkan kebolehan bertanya pada guru, tapi harus dengan etika.
2. Pertanyaan yang argumentatif, boleh bertanya dengan komparasi.
3. Fastabiqul Khoirot. Sahabat memiliki etos kerja dan keinginan ibadah yang tinggi sehingga mereka selalu saling berlomba dalam kebaikan.
4. Pertanyaan harus yang berfaedah.

Sahabat yang bertanya dalam hadits ini bisa jadi dari golongan fuqoro’, atau ahlu suffah yang wara’. Mereka iri dengan orang kaya karena merasa tertinggal dalam sedekahnya. Ingat, iri dalam ibadah dan sedekahnya bukan iri pada harta duniawinya.

Zakat dan infaq harus berupa materi, sedangkan shodaqoh tidak. Zakat terikat waktu, sedangkan infaq dan shodaqoh tidak. Kesimpulannya, shodaqoh bisa dilakukan kapan saja dan dalam bentuk apa saja, termasuk amal sholeh. Berdzikir berupa tasbih, tahmid, takbir tahlil, amar makruf nahi munkar, berkumpul dengan istri pun termasuk ibadah. Membahagiakan pasangan itu merupakan shodaqoh.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. berkata “sholat adalah jalan menuju Allah, puasa mengarahkan kita pada pintu-pintu kerajaan Allah, dan shodaqoh menghantarkan kita untuk masuk ke dalam kerajaan Allah“.

Saat paru-paru kita kurang sehat, lambung, jantung. Jangan-jangan karena selama ini kita tidak pernah bersyukur dengan berfungsinya organ tubuh kita dengan baik. Semua itu tentunya harus disyukuri. Cobalah ketika wirid rasakan setiap persendian dan anggota tubuh itu ikut berdzikir bersamamu. Alirkan energi positif wirid ke setiap anggota badan kita agar semakin hidup dan optimal fungsinya untuk beribadah kepada Allah swt.

Imam Ja’far as-Shadiq ra. berkata, “bersedekahlah dengan matamu (dengan melihat kebesaran Allah dan menjaganya dari melihat yang haram), bersedekahlah dengan telinga mu (dengan mendengar ayat suci Al Quran, mendengar yang baik-baik), dan bersedekahlah dengan mulutmu (dengan mengucap dzikir, tidak menyakiti orang lain, saling mendoakan sesama muslim).”

Bahkan dalam perspektif fiqih, kita pun bisa transfer shodaqoh dengan meniatkannya untuk orang lain, seperti untuk orang tua.

Shodaqoh membawa dua hal. Menghasilkan efek kebaikan dan memunculkan ketenangan.

Hadits ini mengajarkan kepada kita untuk menjaga titik keseimbangan. Orang kaya harus punya sikap syukur dan mengeluarkan sedekah. Sedangkan fuqoro wal masakin harus bersabar dengan bertasbih, tahlil, tahmid, amar makruf nahi munkar, dan membahagiakan istri, serta bersyukur. Mensyukuri setiap nikmat Allah. Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan kita beribadah dalam kondisi apapun. Sabar dan syukur harus selalu ada dalam maqom apapun.

Dzikir adalah paling utama-utamanya sedekah non materi bagi diri kita. disebutkan dalam sebuah hadits:

ما صدقة أفضل من ذكر الله

“Tidak ada sedekah yang lebih utama daripada dzikrullah (mengingat Allah)”
(HR. Thabrani)

Dzikrullah tidak ada batasan bilangan, namun kadang Rasulullah saw memberi pengajaran untuk melatih umatnya. Misal beliau saw beristighfar 100x sehari, bertasbih, bertahmid dan bertakbir masing-masing 33x setiap shalat fardhu dan dzikir lainnya dengan bilangan tertentu.

Dalam hadits ini Rasulullah saw. memberi perpadanan dan alternatif untuk menyeimbangkan antara fuqoro’ dan orang kaya. Seperti Sidy Syekh Abul Hasan as-Syadzili ra, wali qutb yang juga kaya duniawinya. Pun Rasulullah saw sebenarnya sangat kaya raya, terlepas dari tempat tinggal dan kehidupannya yang sangat sederhana. karena kaya yang sebenarnya adalah saat tidak lagi membutuhkan harta untuk dirinya, tapi untuk mengoptimalkan perjuangan menegakkan agama Allah.

Sidy Syekh Abdul Qodir Al Jilani qs. memberi tuntunan untuk bersilaturahmi pada organ tubuh kita, dengan dzikir dan syukur. Wirid laillaha illallah sebanyak 70.000 kali bukan hanya untuk mensedekahi tubuh, tapi juga untuk menebus nafsu yang ada dalam diri kita. Tapi mengamalkan ini harus dengan talqin, dalam pengarahan Mursyid. Caranya dengan kholwat (menyendiri) dan membacanya atas bimbingan dan izin guru, juga berniat untuk menebus nafsu, sampai akhirnya nafsu terendah dapat kita kalahkan dan naik hingga kepada nafsu muthma’innah.

Dzikir adalah segala sesuatu yang membuat kita ingat pada Allah. Dzikir paling utama yaitu menggunakan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah saw, karena terdapat sirrur asrar (rahasia dibalik rahasia) didalamnya.

Sedikit berbeda dengan dzikir, Doa adalah eskpresi kita pada Allah, proposal, curahan hati, sehingga bisa menggunakan bahasa hati. Namun ada doa-doa yang diajarkan Allah dalam Al Quran, diajarkan Rasulullah saw. dan para auliya. Rasulullah saw. adalah dokter hati terbaik. Sehingga sangat dianjurkan untuk membaca doa-doa yang diajarkan beliau dan para auliya. Terlebih didalam doa-doa tersebut terdapat makna-makna tauhid yang dalam dan adab yang baik. Maka berdoalah sambil belajar memahami artinya.

Tingkatan Dalam Dzikir

1. Dzikir Lisan, merupakan dzikir orang awam tanpa hadirnya hati.
2. Dzikir Qalbu, mensinkronkan lisan dengan hati, bukan hanya diam. Disini ia masih sadar kalau sedang berdzikir.
3. Dzikir Khofi, tanpa huruf, tanpa suara. Tenggelam dalam wirid pada Allah swt. bahkan ia sudah tidak bisa mendefinisikan wiridnya. Ia telah Fana’, lebur dan hilang dalam keagungan Allah.

Power of Words

Setiap kata dan kalimat memiliki energi, usahakan selalu mengucapkan kata-kata positif dengan niat yang positif juga. sehingga membawa pengaruh positif kepada sekitar. Agar setiap ucapan kita memancarkan energi positif caranya adalah dengan membiasakan lisan kita membaca kalimah thayyibah. Terutama tujuh kalimat thayyibah berikut:

Pertama, mengawali setiap perbuatan dengan membaca bismillahirrahmanirrahim.

Kedua, mengakhiri setiap perbuatan dengan membaca alhamdulillah.

Ketiga, memperbanyak membaca astaghfirullah ketika melakukan kesalahan, baik kesalahan dalam perkataan maupun perbuatan dan bersitan hati.

Keempat, membaca insyaallah setiap akan mengerjakan sesuatu.

Kelima, apabila menghadapi sesuatu yang berat dan sulit biasakan membaca la hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim.

Keenam, apabila ditimpa musibah baik nyawa maupun harta ucapkanlah innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Ketujuh, biasakan membaca kalimat tauhid, laa ilaaha illaa Allah, sepanjang waktu, baik di siang hari maupun malam hari.

Wallahu A’lam bisshawaab

RESUME KAJIAN DHUHA KITAB ARBAIN NAWAWI BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS Hafizhahullah
(Via zoom Cloud Meeting 05. 30- 07.00 WIB Rabu 6 Ramadhan 1441 / 29 April 2020)