Helikopter Superpuma Sinar Mas Forestry melakukan pengeboman air (water boombing) di atas hutan yang terbakar di Desa Bokor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Selasa (15/3). Dua Helikopter Sinar Mas Forestry berjenis Superpuma PK-DAN dan Eurocopter PK-DAM dikerahkan untuk membantu proses pemadaman kebakaran lahan dan hutan di kawasan tersebut. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/kye/16

Pekanbaru, Aktual.com — Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika menyatakan, tiupan angin dari Tenggara ke Barat Daya di wilayah pesisir Riau mengakibatkan asap dari kebakaran hutan dan lahan di Rokan Hilir menutupi Kota Dumai.

“Asapnya itu terbawa angin ke Barat Daya sampai Timur Laut. Angin itu, berbelok. Secara umum ke Utara di Selat Malaka, tapi dampak wilayah Dumai tertutupi,” ucap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru, Slamet Riyadi di Pekanbaru, Senin (29/8).

Kecepatan angin berkisar lima sampai 15 knot atau sembilan hingga 27 kilometer per jam membuat asap karlahut di Rokan Hilir berkurang begitu tiba di Selat Malaka. Namun, cuaca di wilayah Riau cerah hingga berawan dan sebagian wilayah Riau bagian Utara hingga Tengah diselimuti kabut asap tipis.

Potensi hujan ringan hingga sedang tidak merata yang dapat disertai petir diperkirakan berpotensi terjadi di wilayah Riau bagian Barat, Tengah, Selatan dan sebagian Utara pada sore dan malam hari.

Data Indeks Standar Pencemar Udara Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau awal pekan ini dilaporkan menunjukkan, wilayah Dumai pada angka kosentrasi 282 u gram-m3 atau setara ISPU 166 dengan kesimpulan tidak sehat.

“Memang banyak, tapi tidak terlalu parah untuk negeri jiran Malaysia. Tetapi masyarakat di Dumai sendiri seperti agak terasa dampak kebakaran hutan dan lahan.”

Slamet tambahkan, jika satelit di pagi hari mendeteksi 167 titik panas berada di Sumatera, 145 titik diantaranya di Provinsi Riau dan termasuk di Rokan Hilir 78 titik api, tapi tidak sore ini.

“Untuk titik panas di Sumatera dengan tingkat kepercayaan kebakaran lebih dari 50 persen dinyatakan, nihil. Begitu juga dengan di Riau, karena satelit alami ‘blank area’.”

Bandara Pinang Kampai, Dumai dilaporkan lumpuh, sehingga 41 orang calon penumpang maskapai Transnusa Air Service rute Dumai-Jakarta batal terbang karena jarak pandang hanya sekitar satu kilometer akibat tertutup asap kebakaran lahan dan hutan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Bandara Pinang Kampai Dinas Perhubungan Kota Dumai, Catur Hargowo menyebut, puluhan penumpang terpaksa harus merelakan tidak bisa terbang ke Jakarta.

“Sejauh ini penumpang sangat memaklumi kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk terbang pesawat demi keselamatan mereka,” katanya.

Pesawat jenis ATR72-600 milik maskapai Transnusa ini, terbang dari Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma, Jakarta, setelah sebelumnya sempat berputar-putar selama setengah jam di udara dan akhirnya memutuskan mendarat di Pekanbaru.

Dilaporkan pula pesawat Pelita Air Service rute Jakarta-Dumai kemarin terpaksa divert atau mengalihkan pendaratan akibat kabut asap karhutla dan jarak pandang di Bandara Pinang Kampai yang mengkhawatirkan.

Pesawat jenis ATR 72-500 tersebut akhirnya melakukan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru dan menurunkan penumpang pada bandara tersebut.

(Wisnu)