Pengalaman Lintas-Kultural

Tentu saja kita tidak boleh senaif mengatakan bahwa faktor budaya merupakan satu-satunya determinan bagi pengembangan teknologi dan industri. Yang ingin dikatakan di sini adalah bahwa nilai dan karakteristik tertentu dari sistem budaya menyiapkan pra-kondisi khusus bagi perkembangan teknologi.

Dalam pengalaman Barat, misalnya, perkembangan iptek sangat erat kaitannya dengan semangat dan nilai-nilai kebudayaan pada zamannya. Pada abad pertengahan, dengan dominasi gereja yang represif, perkembangan iptek di eropa mengalami kemunduran. Sebaliknya, bangkitnya Renaissance (abad ke-15 dan 16), rasionalisme (abad ke-17), dan Aufklarung (abad ke-18), merupakan tonggak kebudayaan yang amat penting dalam menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan kemudian teknologi di kawasan ini. Bisa dipahami jika Jurgen Habermas (1991) menyebut bahwa terdapat hubungan signifikan antara formasi kerangka institusional dan bentuk integrasi sosial baru, dengan laju perkembangan teknologi dan produksi, di mana perkembangan yang terakhir justru terjadi kemudian setelah adanya reformasi “kebudayaan”.

Reformasi industri, misalnya, baru terjadi hampir seratus tahun sesudah terbentuknya masyarakat Borjuis, sedangkan teknologi industrial berkembang pesat menyusul bangkitnya cita-cita liberalisme. Pada level yang lebih mikro, keputusan Henry Ford untuk memproduksi secara massal kendaraan murah dan sederhana, atau keputusan Apple untuk memasarkan komputer pada setengah abad terakhir, sedikit banyak merefleksikan kecenderungan budaya Amerika yang sangat memperhatikan kebebasan individu dan kenyataan. Sebaliknya, keengganan negeri adidaya ini untuk memperluas penggunaan kereta api, dapat dijelaskan dengan alasan yang sama.

Signifikansi budaya dalam pengembangan iptek, juga ditunjukkan secara jelas dalam pengalaman industrialisasi di Jepang. Keunggulan Jepang dalam segi-segi tertentu saat ini, dapat diterangkan sebagai keberhasilan mereka untuk menerjemahkan upaya-upaya modernisasi (industrialisasi) dalam kerangka tradisi budaya yang mereka warisi. Banyak upaya pengembangan iptek dan praktik inovasi teknologi bangsa ini yang memiliki latar historis dan akar kulturalnya yang amat kuat, terutama pada tradisi Zen Budhism. Tradisi Samurai dan semangat Bushido, misalnya, menjadi tumpuan budaya yang amat penting dan upaya mengadaptasi teknologi asing tanpa mengabaikan identitas dan “local genius” yang mereka miliki, sehingga membentuk kekuatan dan keunikannya tersendiri.

Dalam skala mikro, seperti ditunjukkan dengan baik oleh Sheridan M. Tatsuno (1990), kontinuitas tradisi dalam pelbagai inovasi teknologi itu tercermin dalam kekhasan beberapa produk industri Jepang. Pengembangan produk-produk micro electronic dengan prinsip estetik berorientasi ke arah miniaturisasi, misalnya, tiada lain merupakan metamorfosa dari seni tradisional “Bonsai”. Sedangkan desain robotik, tiada lain merupakan bentuk lebih lanjut dari tradisi merangkai bunga (Ike-bana), dan banyak contoh lainnya.

Demikian pula halnya pengalaman Dunia Islam. Tradisi budaya dan sikap-kejiwaan umat Islam masa awal yang bersifat kosmopolit, memungkinkan mereka berdialog dengan semua peradaban. Sehingga dalam waktu singkat, umat Islam bisa “memungut” dan mengembangkan pelbagai iptek yang ada pada zamannya: mulai dari perbatasan Cina hingga Samudera Atlantik; mulai dari ilmu pengetahuan Yunani, Mesir, India hingga Cina. Tradisi egalitarianisme Islam, juga telah mendorong ke arah gerakan penerjemahan ilmu pengetahuan ke dalam bahasa kaum awam, yang bisa diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat saat itu.

Sementara itu, sikap-kejiwaan mereka yang terbuka dan toleran, juga telah memacu usaha-usaha alih teknologi secara lintas-batas dan mendorong kerjasama antar pemeluk agama, dalam rangka memajukan ilmu pengetahuan di pusat-pusat Islam. Maka di Bayt al-Hikmah, perpustakaan sekaligus pusat kajian yang amat terkenal pada masa al-Makmun (di Baghdad, 813 M), misalnya, berkumpullah orang-orang terkenal seperti Banu Musa bersaudara dari kalangan Islam, Hunayn bin Ishaq dari kalangan Kristen Nestorian, dan Tsabit bin Qurra yang menganut agama Sabean.

Dengan sikap yang sama, hubungan antara pendidik dan peserta didik dalam tradisi akademi Islam begitu hangat dan egaliter. Para mahasiswa dan ilmuwan bisa belajar dalam kalangan terbatas di bawah bimbingan seorang guru. Cara ini selalu merupakan cara pengajaran yang paling penting dan ampuh.

Pengalaman lintas kultural juga menunjukan besarnya pengaruh humaniora bagi transformasi sosial. Bahkan kesusasteraan, yang sering diremehkan, punya andil besar dalam perubahan sejarah. Tokoh-tokoh dalam karya fiksi kerapkali mempengaruhi hidup, standar moral masyarakat, mengobarkan revolusi, dan bahkan merubah dunia. Kisah Rosie the Riveter, yang melukiskan sepak terjang seorang pekerja pabarik kerah-biru menjadi pengungkit bagi Women’s Liberation Movement. Kisah Siegfried, ksatria-pahlawan legendaris dari nasionalisme Teutonik, bertanggung jawab mengantarkan Jerman pada dua perang dunia. Kisah Barbie, boneka molek, yang menjadi role model bagi jutaan gadis-gadis cilik, dengan memberikan standar gaya dan kecantikan (Lazar, et.al. 2006). Belum lagi kalau kita bicara pengaruh yang ditimbulkan oleh karya-karya Homer, Goethe hingga Ronggo Warsito, yang memberi dampak yang luas bagi lifeword masyarakatnya masing-masing.

Pengalaman Indonesia

Lalu, bagaimana dengan pengalaman bangsa Indonesia sendiri? Amat disayangkan, upaya-upaya pengkajian dan pertimbangan budaya dalam pengembangan iptek di negeri ini masih belum terintegrasi dan dilakukan secara proporsional. Di satu pihak, pandangan yang muncul seringkali mencerminkan argumen-argumen kaum tecno-neutralis, yang memandang teknologi sebagai bebas nilai, dengan tilikannya yang melulu beredar di sekitar persoalan cost-benefit analysis, segi-segi efisiensi dan produktivitas, dengan mengenyampingkan faktor-faktor sosio-kultural.

Di lain pihak, kalaupun ada beberapa kajian yang coba melihat kaitan antara kebudayaan dan pengembangan iptek di Indonesia, beberapa kelemahan mendasar bisa segera kita kenali. Pertama, kajian-kajian yang berkembang selama ini terlalu didominasi oleh argumen-argumen techno-phobic. Mereka cenderung hanya memandang aspek negatif dari pengembangan teknologi, yang kemudian melancarkan tindakan reaktif tanpa dibarengi upaya pro-aktif untuk menggali fondasi kultural sebagai basis pengembangan iptek. Kedua, kalaupun perhatian terhadap faktor-faktor budaya dalam kaitan dengan upaya pengembangan iptek itu dilakukan, kesimpulan yang seringkali muncul adalah menjadikan kebudayaan Indonesia, apa yang disebut Mochtar Pabottingi, sebagai “terdakwa”.

Gambaran yang biasa dihadirkan, antara lain, adalah: masyarakat Indonesia masih berlebihan dalam mengembangkan nilai-nilai yang bersifat ekspresif, dan kurang mengembangkan nilai-nilai yang bersifat progresif (Alisjahbana, 1994); kebudayaan Jawa yang dominan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, de facto mengandung nilai-nilai yang bisa menghambat kemajuan ilmu (sikap, mental feodalistik, budaya sungkan berterus-terang dan lain-lain) (Hardjowirogo, 1984; Niels Mulder, 1984); masyarakat Indonesia tergolong masyarakat dalam kategori soft state, lemah disiplin sosialnya, disiplin etika atau moralnya, cenderung hendak santai saja, kepingin cepat jadi doktorandus dan seterusnya (Lubis, 1988).

Lepas dari kemungkinan adanva kebenaran dari beberapa pernyataan tersebut, kecenderungan generalisasi secara negatif seperti itu sering mengabaikan beberapa hal penting. Misalnya kenyataan bahwa “kebudavaan Indonesia” itu tidak homogen tetapi heterogen. Mochtar Naim antara lain pernah menyebutkan bahwa selain dikenal adanya pola kebudayaan Jawa yang berorientasi vertikal, hirarkis, sentripetal, dan sinkretis, di Indonesia juga terdapat kebudayaan Minangkabau yang berorientasi horisontal, egaliter, sentrifugal, dan sintesis (dalam Lubis, 1988). Selain itu, asumsi-asumsi yang memandang tiadanya preferensi kebudayaan yang bisa mendorong perkembangan iptek di Indonesia, juga akan mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada data-data historis tentang betapa banyaknya temuan iptek yang dikembangkan suku-suku bangsa Indonesia di masa lampau, yang memiliki kadar intelektual yang sangat tinggi.

Misalnya, dalam bidang pertanian, penanaman padi di sawah yang mengikuti perubahan musim melalui pengenalan rasi bintang, pengenalan tanaman holtikultura untuk ramuan jamu fermentasi tempe dan tapai, pembuatan gula dan penguapan nira. Dalam metalurgi, pembuatan keris dengan penempatan pamor dari logam meteroit untuk dekorasi dan memperkuat struktur logam perunggu, emas, dan perak. Dalam arsitektur, konstruksi Borobudur yang menggunakan pola geometris yang akurat baik dalam garis, sudut, dan lingkaran dalam tiga dimensi dengan stabilitas penyusunan batu-batu yang tahan ratusan tahun. Demikian pula konstruksi rumah dari bahan kayu yang tidak menggunakan paku sebagai pengikat, serta desain rumah-rumah adat yang tidak saja mempunyai nilai simbolis, tetapi juga fungsional. Belum lagi seni pahat yang tinggi nilai peradabannya. Beberapa suku bangsa malah telah menguasai teknologi pelayaran dan perkapalan, dan lain-lain (Ibrahim, 1991).

Contoh-contoh tersebut menunjukkan secara jelas adanya dasar kebudayaan iptek pada suku-suku bangsa Indonesia di zaman lampau. Jika kemudian dasar-dasar kebudayaan seperti itu tidak lagi menunjukkan vitalitas dan kontinuitasnya, maka pemeriksaan perlu dilakukan terhadap determinan-determinan historis yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan Indonesia. Dalam hal ini, faktor politik kebudayaan kolonial yang bersifat domestikatif, ditambah dengan praktik-praktik politik dan ekonomi yang tidak kondusif selepas kemerdekaan, banyak disebut sementara pemerhati sebagai penyebab terjadinya disrupsi dalam kebudayaan Indonesia. (bersambung)

 

Oleh: Yudi Latif, Chairman Aktual