Ilustrasi asteroid menghantam Bumi. (Shutterstock)
Ilustrasi asteroid menghantam Bumi. (Shutterstock)

Jakarta, aktual.com – Penelitian tiga astronom dari Leiden University Belanda menunjukkan beberapa asteroid yang saat ini dianggap tidak berbahaya, dapat bertabrakan dengan Bumi pada masa depan. Mereka melakukan penelitian dengan bantuan jaringan saraf tiruan.

Hasil penelitian mereka telah diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics.

Menggunakan superkomputer, para peneliti mengintegrasikan orbit matahari dan planet-planetnya ke depan dalam waktu 10.000 tahun. Setelah itu, mereka melacak orbitnya ke masa lalu saat meluncurkan asteroid dari permukaan Bumi.

Selama perhitungan mundur, mereka memasukkan asteroid dalam simulasi untuk mempelajari distribusi orbital mereka pada tanggal hari ini. Dengan cara ini, mereka memperoleh basis data asteroid hipotetis yang para peneliti tahu bahwa mereka akan mendarat di permukaan Bumi.

Astronom dan pakar simulasi Simon Portegies Zwart menjelaskan, “Jika Anda memutar mundur jam, Anda akan melihat asteroid terkenal mendarat lagi di Bumi. Dengan cara ini, Anda dapat membuat perpustakaan orbit asteroid yang mendarat di Bumi. Perpustakaan asteroid kemudian berfungsi sebagai materi pelatihan untuk jaringan saraf.”

Rangkaian perhitungan pertama dilakukan pada super komputer Leiden yang baru bernama ALICE, tetapi jaringan saraf berjalan pada laptop sederhana. Para peneliti menyebut metode mereka Hazardous Object Identifier (HOI), yang berarti ‘hai’ atau ‘halo’ dalam bahasa Belanda.

Jaringan saraf dapat mengenali objek dekat Bumi yang terkenal. Selain itu, HOI juga mengidentifikasi sejumlah objek berbahaya yang sebelumnya tidak diklasifikasikan. Misalnya, HOI menemukan 11 asteroid yang, antara tahun 2131 dan 2923, lebih dekat dari 10 kali jarak Bumi-Bulan dan diameternya lebih besar dari 100 meter.

Bahwa asteroid-asteroid ini sebelumnya tidak diidentifikasi sebagai berpotensi berbahaya adalah karena orbit asteroid ini sangat kacau. Akibatnya, mereka tidak diperhatikan perangkat lunak saat ini dari organisasi luar angkasa, yang didasarkan pada perhitungan probabilitas yang menggunakan simulasi brute force yang mahal.

Menurut Portegies Zwart, penelitian ini hanya latihan pertama. “Kita sekarang tahu bahwa metode kita berhasil, tetapi kita tentu ingin mempelajari lebih dalam penelitian dengan jaringan saraf yang lebih baik dan dengan lebih banyak input. Bagian yang sulit adalah gangguan kecil dalam perhitungan orbit dapat menyebabkan perubahan besar pada kesimpulan,” kata dia.

Para peneliti berharap di masa depan jaringan saraf tiruan dapat digunakan untuk mendeteksi objek yang berpotensi berbahaya. Metode seperti itu jauh lebih cepat daripada metode tradisional yang digunakan organisasi antariksa saat ini.

Dengan memperhatikan asteroid di jalur tabrakan sebelumnya, para peneliti mengatakan, organisasi antariksa dapat lebih cepat memikirkan strategi untuk mencegah dampak. [liputan6]

 

(Eko Priyanto)