Kupang, Aktual.co — Mengantisipasi kesulitan air pada musim kemarau ini, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, mengerjakan sumur bor di berbagai wilayah yang rawan air bersih. Pengerjaan sumur bor ini dilakukan secara manual oleh masyarakat, dengan bantuan biaya dari pemerintah Daerah.

“Jadi saat ini kita sementara membuat sumur bor di beberapa wilayah yang memang-benar-benar krisis air pada saat kemarau seperti ini. Kita baru saja selesai kerja di Desa Keliha, Sabu Timur tepatnya disamping pasar Napuru,” kata Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome, kepada wartawan, Sabtu (18/10).

Dira Tome, menjelaskan, saat ini sudah ada empat titik sumur bor yang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat, yakni di Desa Jiwuwu dan Desa Keliha Kecamatan Sabu Timur. Kedua wilayah ini memang sangat kesulitan air ketika musim kemarau tiba.

“Pada saat sekarang mereka sangat kesulitan air sehingga kita memprioritaskan wilayah-wilayah yang memang sulit mendapatkan air. Kita akan geser ke Desa Teriwu dan beberapa desa di kecamatan Mehara dan Liae,” katanya.

Menurutnya, orang-orang sabu sangat pintar mendeteksi dimana ada air bawah tanah yang bisa digali, sehingga mudah untuk menentukan posisi mata air. “Kekeringan di NTT dan Sabu Raijua khususnya merupakan hal yang lazim, sehingga tidak perlu diratapi, tapi harus diatasi dengan cara-cara cerdas tapi tidak memerlukan banyak biaya,” ujarnya.  

Dia mengatakan, manusia, alam dan air adalah segitiga kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. “Karena itu saya berpesan kepada masyarakat agar memanfaatkan mata air ini untuk kebaikan semua makluk dijagat ini,”tambahnya.

Dia mengakui, selama berpuluh-puluh tahun, masyarakat di Desa Keliha dan Jiwuwu serta beberapa desa lainnya, harus bertarung dengan ganasnya kekeringan alam. Mereka harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan air minum bagi keluarga.

“Persoalan air menjadi tanggungjawab pemerintah bagimana menjawab kebutuhan masyarakat. Untuk itu maka selain embung, maka saat ini kita coba membuat sumur bor secara manual dan hasilnya cukup menolong masyarakat. Mereka yang selama ini berpeluh keringat dan air mata karena kekeringan, saat ini telah tersenyum karena ada mata iar kehidupan,” paparnya.

Untuk membuat satu sumur bor, kata Marthen, tidak membutuhkan waktu lama. Seperti yang telah dilakukan di empat titik tersebut hanya dibutuhkan waktu 2 hari untuk satu sumur bor. Disisi lain biaya yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak, tergantung dari kedalaman air saat dilakukan pengeboran.

“Dengan adanya air ini maka saya mengajak masyarakat untuk menciptakan alam yang layak untuk di huni dengan terus menanam. Saya juga berpesan supaya gunakan air yang ada untuk menyulam lingkungan yang gersang sehingga bisa mewariskan masa depan yang sejuk bagi generasi penerus,” katanya lagi.

()