Medan, Aktual.co —Kecamatan Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, namanya mungkin sudah tak asing lagi bagi turis domestik. Karena Barus yang dahulu juga dikenal dengan sebutan Fansur itu kini menjadi salah satu lokasi destinasi wisata, khususnya, wisata religi.
Dilirik dari catatan sejarah, sejak abad 1-17 Masehi, ajaran agama Islam telah tumbuh dan berkembang di Barus. Catatan itu kemudian menguatkan bahwa awal masuknya ajaran Islam di Indonesia pertama kali berada di Barus.
Pun, dalam sejumlah literatur beberapa negara di abad itu, di antaranya literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia dan China, Barus kerap disebutkan sebagai daerah yang dikenal sebagai daerah perdagangan. Walau beberapa pandangan menyebutkan pada masa itu, pengembangan Islam belum sampai pada ajaran sholat, masih sebatas pengajaran tentang Allah, Nabi dan Islam itu sendiri.
Selain literatur itu, di Barus hingga kini masih bertahan makam para syekh yang berjasa menyebarkan agama Islam di Barus. Diantaranya, Makam Mahligai dimana dimakamkan Syekh Rukkunuddin yang diperkirakan berusia 102 tahun dan wafat di tahun 48 Hijriyah. Selain Syekh Rukkunuddin, terdapat ratusan makam lainnya, yang diyakini adalah makam para pengikut-pengikutnya.
Kemudian, makam Papan Tinggi dimana Syekh Mahmud dan 5 pengikutnya terdiri dari 2 perempuan dan 3 laki-laki dimakamkan. Syekh Mahmud diperkirakan wafat ditahun 44 Hijriyah diusia muda, yakni 50 tahun. Makam Syekh diperkirakan sudah berusia 1.396 tahun, dan ditemukan diperkirakan tahun 1939.
Selain dua makam itu, juga terdapat sejumlah makam syekh lainnya yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Barus. Di antaranya, makam Syekh Tuan Ambar, Syekh Ibrahim Syah, Syekh Mahdum, Syekh Kayu Manang, Syekh Tuan Pinago, Syekh Tuan Kinali dan Syekh Tuan Jantikan.
“Sebenarnya, selain kedua syekh di dua makam yang sering dikunjungi, mereka ini (Syekh) ada ratusan, semua memang turut ikut serta menyebarkan Syiar Islam, tapi yang masuk dalam hitungan Aulia ada 44 orang. ‎Dan yang 44 ini belum ditemukan semuanya, itu yang saya katakan untuk bisa dibantu misalnya penelitian lebih lanjut mencari lokasi-lokasi makam Aulia lainnya yang belum ditemukan,” ujar juru kunci makam Papan Tinggi, Usman Pasaribu kepada Aktual.co.
Kedua makam itu berada di dua desa berbeda. Makam Mahligai berada di desa Dakka, dari pusat Kecamatan Barus ditempuh perjalanan berkendara hanya 15 menit saja. Dipersimpangan Makam, jalan sedikit menanjak berliku.
Tiba di gerbang Makam Mahligai, akan terlihat ratusan nisan di atas tanah seluas setengah hektar yang diukir bergaya arab. Beberapa diantaranya diukir lengkap dengan lafal-lafal islam berbahasa arab kuno. Sementara sebagian lainnya, hanya merupakan nisan batu biasa berbentuk bulat lonjong, namun tetap terkesan kuno.
Untuk masuk ke dalam makam, pengunjung tidak dipatok tarif, hanya jika ingin bersedekah atau ber-infaq untuk biaya perawatan makam. Kepada pengunjung juga diberi beberapa larangan, di antaranya tidak diperkenankan memakai sepatu atau sendal, tidak boleh duduk di atas makam, serta himbauan untuk tidak meminta kepada arwah, karena meminta hanya kepada Allah SWT.
Berbeda dengan Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi berada di Desa Pananggahan. Jaraknya lebih dekat dari pusat Kecamatan Barus, meski untuk menuju makam tidak semudah menuju makam Mahligai. Pasalnya selain berjalan kaki di jalan setapak sejarak 300 meter, perjalanan kaki kembali harus ditempuh menaiki 700 lebih anak tangga dengan kemiringan 70 derajat.
Soal tarif, pengunjung juga tidak dipatok, hanya sekedar infaq atau sedekah yang sebagian akan digunakan untuk biaya perawatan Makam.
“Yang mengelola langsung warga sekitar secara bergantian,” ujar juru kunci makam, Usman Pasaribu.
Tiba di lokasi makam yang berada di 200 meter di atas permukaan laut itu, tersaji ‘view’ lautan dan beberapa pulau diteluk Sibolga yang cantik. Terlihat juga hamparan hutan dan sawah hijau, tak lupa sembari rehat sejenak dibawah 7 pohon jambu keling yang berusia ratusan tahun didalam lokasi makam. Jangan lupa, masuk kedalam makam, lepaskan sepatu atau sendal dipakai.
Di dalam makam seluas sekitar 10×20 meter di puncak bukit itu, akan terlihat makam Syekh Mahmud berukuran panjang 7 meter lebih juga dengan batu nisan bertuliskan lafal arab. Bersebelahan dengan makam Syekh Mahmud, terdapat 5 makam pengikutnya yang tersusun berdekatan. Bagi pengunjung yang membacakan ayat-ayat Alqur’an, dilokasi makam disediakan beberapa Alqur’an mini.
Para pengunjung, memiliki kebiasaan tersendiri sebelum meninggalkan makam, yakni mengikatkan kain, plastik atau tali, yang dipercaya sebagai mitos tanda sudah pernah menginjakkan kaki di lokasi spiritual itu.
“Kita kemari memang kemari sama bos dari perusahaan, mau bernajar karena target bulan ini tercapai. Mengikatkan‎ sesuatu dipohon atau dipagar itu, mitos, tanda kita sudah pernah kemari,” ujar seorang pengunjung asal Aceh, Yati.
Diingatkan, masuk para pengunjung untuk tidak berbuat sembarangan, misalnya membuang sampah atau bahkan berfikiran dan bertindak yang senonoh. Pasalnya, tak jarang, pengunjung mengalami hal-hal aneh.
“Pernah diserang lebah satu kelompok semuanya, ada juga kesurupan, pulang dari atas, sering kejadian aneh, pernah magrib, nisan itu bersinar,” tutur Usman.
Makam Papan Tinggi membutuhkan sejumlah renovasi, utamanya lokasi parkir, shelter di anak-anak tangga dan Toilet. Renovasi itu agaknya sudah direncanakan oleh pemerintah setempat.
“Sudah diprogram. Untuk dibangun, diantaranya pelataran parkir, shelter tangga untuk tempat peristirahatan,” ujar Usman.

()