US Secretary of State Antony Blinken (L) and Palestinian president Mahmud Abbas give a joint statement, on May 25, 2021, at the Palestinian Authority headquarters in the West Bank city of Ramallah. (Photo by Alex Brandon / POOL / AFP)

Jakarta, Aktual.com – Amerika Serikat akan membuka kembali konsulatnya di Yerusalem. Hal itu terungkap pada pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Ramallah, Rabu (26/5).

Blinken mengatakan, rencana tersebut juga telah disampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pertemuan bilateralnya yang berlangsung di hari yang sama di Tel Aviv.

“Seperti yang saya katakan kepada perdana menteri Netanyahu dan presiden Abbas, Amerika Serikat akan bergerak maju dengan proses untuk membuka kembali konsulat kami di Yerusalem,” ungkap Blinken dalam konferensi pers yang digelar bersama Presiden Mahmoud Abbas.

Blinken menegaskan, rencana membuka kembali konsulat tersebut, diklaim sebagai upaya untuk terlibat serta memberikan dukungan kepada rakyat Palestina.

“Itu (membuka kembali konsulat di Yerusalem, red) cara penting bagi negara kami untuk terlibat dan memberikan dukungan kepada rakyat Palestina,” tambahnya.

Pada pertemuan bilateral di Ibu Kota Palestina itu, Blinken juga menyampaikan komitmen Amerika Serikat untuk memberikan bantuan hingga 360 juta USD, yang akan digunakan sebagai bantuan untuk sektor ekonomi serta rekonstruksi pasca konflik 11 hari.

“Amerika Serikat akan memberi tahu Kongres tentang niat kami untuk memberikan 75 juta USD dalam pembangunan tambahan dan bantuan ekonomi untuk Palestina pada 2021. Juga akan memberikan 5,5 juta USD dalam bentuk bantuan bencana untuk Gaza. Secara total, kami sedang dalam proses memberikan lebih dari 360 juta USD dalam dukungan mendesak bagi rakyat Palestina dan di seluruh upaya ini kami akan bekerja dengan mitra untuk memastikan bahwa Hamas tidak mendapat manfaat dari upaya rekonstruksi ini,” papar Blinken lagi.

Presiden Mahmoud Abbas menyambut baik rencana Amerika Serikat untuk membuka kembali konsulat di Yerusalem dan berharap konflik 11 hari tidak akan kembali terulang di masa depan.

“Kami berharap ke depanya akan penuh dengan aktivitas diplomatik sebagai upaya untuk mencapai solusi komprehensif dan untuk mengakhiri kejadian baru-baru ini,” ucap Abbas.

Sebelumnya, konsulat Amerika Serikat lama menjabat sebagai kantor otonom yang bertanggung jawab atas hubungan diplomatik dengan Palestina.

Tetapi, mantan Presiden Donald Trump menurunkan operasinya dan menempatkannya di bawah otoritas duta besarnya untuk Israel ketika dia memindahkan kedutaan ke Yerusalem.

Pada 6 Desember 2017, Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, serta memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke kota tersebut. (RRI)

(Warto'i)