Jakarta, Aktual.com – Laju nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) belakangan ini disebut Bank Indonesia (BI) bukan karena adanya aksi demonstrasi super damai pada 2 Desember 2016 besok.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, saat ini perekonomian Indonesia lebih dipengaruhi faktor eksternal yang ada di AS. Apalagi setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

“Bagi BI, demo itu kan suatu yang biasa ya. Demo setiap minggu juga ada. Dan apalagi besok itu katanya super damai. Jadi dampak ke rupiah tidak besar. Ini bukan yang luar biasa. Dan volatilitas rupiah itu suatu yang biasa,” terang Mirza seusai diskusi Arah Kebijakan Bank Indonesia 2017, di Jakarta, Kamis (1/12).

Demo aksi super damai besok atau yang disebut Bela Islam Jilid III, merupakan aksi untuk menuntut Gubernur non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang telah menistakan agama Islam harus ditahan. Sekarang kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan.

Kondisi volatilitas pasar keuangan, kata dia, lebih dipengaruhi saat Trump memang. Dan hingga kini, volatikitas rupiah itu masih terjadi. “Tapi kan BI terus hadir di pasar valuta asing, SBN (Surat Berharga Negara). Jadi BI masih konsisten untuk mencukupkan likuditas yang ada di pasar itu,” jelas dia.

Pihak regulator moneter ini, kata dia, jika depresiasi rupiah melebar dan pasar juga kekurangan likuiditas, maka BI itu pasti menambah likuiditas tersebut.

“Jadi saya optimis dengan demo super damai ini. Makanya BI hanya mengkhawatirkan sentimen global terkait Trump itu. Kapan kenaikan suku bunga The Fed, dan bagaimana komposisi kabinetnya, terutama posisi Menteri Keuangannya. Itu yang akan memengaruhi laju rupiah,” papar dia.

BI sendiri pun, kata dia, minggu lalu misalnya ada permintaan untuk swap tenor lewati awal tahun, makanya BI pun hadir di pasar untuk berikan tenor lebih dari akhir tahun ini.

“Jadi dengan swap ini, bisa menambah rupiah ya. Makanya, kalau bank mau swap ke BI, kami dari BI langsung ngasih ke rupiah,” tandas dia.

Saat ini, berdasar data Bloomberg, dibuka pada level Rp13.579 melemah dibanding penutupan kemarin di posisi Rp13.555. Namun hingga pukul 11.00 wib, laju rupiah sedikit menguat sebesar 0,09% ke level Rp13.567.

(Laporan: Busthomi)

()

(Eka)