Dua anak mengisi jeriken dari sumber mata air di desa Sanleo, Kobalima, Malaka, NTT, Jumat (10/10). Akibat musim kemarau yang berkepanjangan warga harus mencari sumber air sejauh tiga kilometer dari desa asalnya. ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo/pd/15

Kupang, Aktual.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewasdapai ancaman bencana kekeringan yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Saat ini 100 persen dari total Zona Musim di NTT masih berada dalam periode musim kemarau berdasarkan analisis hingga 31 Agustus 2019, sehingga diperlukan kewaspadaan terkait ancaman bencana kekeringan,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Kupang, Apolinaris Geru, Selasa (3/9).

Dia menambahkan, data hari tanpa hujan (HTH) hingga update 31 Agustus 2019, menunjukkan bahwa daerah di NTT pada umumnya mengalami deret hari kering lebih dari 60 hari.

Selain itu, prakiraan peluang curah hujan menunjukkan bahwa daerah Nusa Tenggara Timur diprakirakan akan mengalami curah hujan sangat rendah (kurang dari 20 mm/dasarian) dengan > 70 persen.

Kondisi ini menurut dia, telah memenuhi syarat untuk dikeluarkan peringatan dini. Mengenai potensi dan dampak, dia mengatakan, kondisi ini akan berdampak pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan.

Selain berdampak pada pengurangan ketersediaan air tanah sehingga menyebabkan kelangkaan air bersih, dan meningkatnya potensi kemudahan terjadinya kebakaran. Karena itu, diperlukan kewaspadaan terkait ancaman bencana kekeringan, katanya

(Abdul Hamid)