Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Jakarta, Senin (10/4). Suhardi Alius melaporkan kepada Presiden perkembangan penanggulangan terorisme di Jawa Timur. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/17

Padang, Aktual.com – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengingatkan publik untuk tidak memberikan stigma bahwa teroris identik dengan agama tertentu.

“Jangan stigmakan teroris kepada agama apapun yang bertujuan menciptakan ketakutan adalah terorisme,” kata Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius di Padang, Jumat (2/2) usai memberikan kuliah umum di Universitas Andalas.

Ia menyampaikan memang secara kebetulan pelaku teror adalah mereka yang menyimpang dalam menafsirkan ajaran agama.

“Tapi dalam Islam sekali pun tidak ada mengajarkan kekerasan,” kata dia.

Menurutnya kalau ada yang mencap orang bertakbir adalah radikal harus melihat kontennya dulu.

“Takbir untuk kebaikan itu boleh, tapi kalau untuk berbuat tidak benar itu yang tidak boleh,” katanya.

Ia menyatakan tidak sependapat dengan pihak yang menyatakan takbir adalah radikal.

“Lain halnya membunuh orang lalu bertakbir itu namanya penyimpangan,” lanjutnya.

Ia mengatakan Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan stigma yang ada juga akan membuat sulit dalam melakukan pemberantasan teroris.

Pada sisi lain ia berpesan kepada para mahasiswa di Tanah Air agar senantiasa menjaga idealisme dan tidak mudah terpengaruh radikalisme.

Para mahasiswa hari ini adalah masa depan Indonesia karena itu mereka harus dijaga agar tetap terpelihara idealismenya dan tidak mudah dirasuki paham yang menyesatkan, katanya.

Suhardi mengingatkan mahasiswa untuk membekali diri dengan akhlak yang baik dan moral karena akan menjadi filter mana informasi yang naik dan mana yang harus ditolak “Mahasiswa harus cerdas, apalagi saat ini semua pegang gawai, lewat itu radikalimes bisa disebarkan,” katanya.

 

Ant.

()