Jakarta, Aktual.com — Dalam hitungan beberapa hari lagi, rakyat Indonesia akan memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke-70. Dalam peringatan hari nasional tersebut seringkali kita memperingatinya dengan melakukan upacara bendera merah putih serta melakukan penghormatan di dalamnya.

Namun, seperti apakah perspektif dalam Islam atas hukum menghormati bendera tersebut? Berikut ulasan yang diberikan Aktual.com dari Ustadzah Neneng Hasanah, MA.

“Yang sebenarnya tidak boleh, adapun kita sekarang menghormti bendera bukan karena mengagungkan dan memuliakannya tapi hanya sekedar simbol negara,” kata Ustadzah Neneng dihubungi Aktual.com di Jakarta, Selasa (11/8).

Mengingat, hal tersebut tidak ada kaitannya dengan syiar Islam. Sehingga, hendaknya kita lebih mendahulukan suatu perkara yang ada kaitannya dengan ketakwaan terhadap Allah SWT untuk diagungkan.

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah SWT, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” – (QS.22:32)

“Diantara ciri-ciri takwa itu adalah barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah SWT, sedangkan bendera itu bukan syiar Allah SWT tapi simbol negara seperti negara Indonesia yg afiliasinya kepada Islam pun kurang respect. Jadi tidak perlu diagung-agungkan atau dihormati berlebihan, dicium dan sebagainya,” jelasnya.

Berikut ini merupakan, gambaran pandangan Syaikh Usamah Al Qushi, salah seorang Ulama Ahli Sunnah di kota Kairo Mesir terhadap hukum menghormati bendera ini.

السؤال : ما حكم الوقوف لتحية العلم ؟

Pertanyaan, “Apa hukum berdiri untuk hormat bendera?”

الجواب : لا حرج, ولا علاقة له بالدين ولا يعارض الإسلام في الشيء وليس هذا تعبدا, أنت لا تقف للعلم عبادة له, إنما هذا رمز يجب على الناس احترامه, وهذا من أمور الدنيا وليس مرادا لذاته. إنما يمثل شيئا يعني هذه القطعة من القماش لا تعظم لذاتها

Jawaban Syaikh Usamah Al Qushi (salah seorang Ulama ahli sunnah di kota Kairo Mesir), “Tidak masalah. Hormat bendera itu tidak berkaitan dengan agama dan sedikit pun tidak bertentangan dengan Islam. Hormat bendera bukanlah perkara ibadah. Anda tidaklah berdiri dalam hormat bendera karena beribadah kepada bendera. Bendera hanyalah simbol yang wajib dihormati oleh warna negara. Hormat bendera adalah bagian dari perkara dunia. Hormat bendera itu bukanlah hormat kepada selembar kain. Kain di sini hanyalah mewakili sesuatu. Artinya, selembar kain bendera itu tidaklah dihormati karena kainnya.

وكانت الراية موجودة على عهد رسولنا صلى الله عليه وسلم و كان لها احترام

Bendera itu sudah ada di masa Rasulullah SAW dan juga dihormati.

نعم لم يكن احترام بنفس الصورة التي نحن نفعلها اليوم لأن الدنيا, مظاهر الحياة الدنيوية تختلف من عصر إلى عصر ومن مكان إلى مكان. التعظيم والاحترام كان له طريقة مختلفة
Memang, bendera tidaklah dihormati dengan cara penghormatan yang kita lakukan saat ini karena perkara dunia itu berbeda antara satu zaman dengan zaman berikutnya, antara satu tempat dengan tempat yang lain. Jadi cara menghormati sesuatu itu wajar saja jika berbeda.

فكانت الراية فقط في حالة الحرب وكانت ترفع كرمز للعزة ورمز للإباء والصمود يعني طال ما هذه الراية مرفوعة فمعنى أن الجيش صامد وثابت, سقوط الراية كان يعني انهيار الحالة الروح المعنوية يعني لو استطعنا أن نسقط راية العدو أو نسقط أو نقتل شخص الذي يحمل الراية هذا يبث روح الهزيمة في جوش الآخر ونفس شيء في جيشنا فكانت الراية يحرص الجيش على أن تبقى هذه الراية مرفوعة و خفاقة طوال المعركة والعدو يحرص على قتل حامل الراية كما يحرص على قتل قائد الجيش يعني هذا مراد هدف

Di masa silam bendera hanya dikibarkan saat perang saja. Ketika itu bendera dikibarkan sebagai simbol kemuliaan, kemuliaan dan ketidaktundukan terhadap musuh. Artinya selama bendera berkibar tinggi berarti pasukan masih eksis dan gagah. Jatuhnya bendera berarti hancurnya spirit pasukan.

Sehingga jika kita mampu menjatuhkan bendera musuh, menjatuhkan atau membunuh orang yang memegang bendera musuh maka spirit kekalahan akan menyebar di tengah-tengah pasukan musuh. Hal yang sama juga akan dialami oleh pasukan kaum Muslimin.

Oleh karena itu pihak musuh berupaya agar bendera tetap berkibar tinggi selama peperangan berlangsung. Musuh sangat antusias untuk membunuh orang yang membawa bendera sebagaimana berantusias untuk membunuh panglima perang. Dengan kata lain, bendera adalah salah satu target dan sasaran musuh.

وبالتالي احترام الراية ورفعها وكونها تخفق هذا أمر له أصول حتى في زمان النبي الكريم صلى الله عليه وسلم. فتحية العلم ليست محرمة.

Jadi hormat bendera, mengerek dan mengibarkannya adalah perkara yang memiliki landasan di masa Nabi Muhammad SAW. Kesimpulannya, hormat bendera bukanlah hal yang haram.

يقول السائل : ما حكم الوقوف لتحية العلم حيث إن بعض الشيوخ الجزائريين امتنعوا من هذا الأمر فكانت مشكلة في الجزائر ؟

Pertanyaan, “Apa hukum berdiri untuk hormat bendera karena sebagian Ulama di Al Jazair menolak untuk menghormati bendera dan ini menyebabkan mereka mendapatkan masalah?

الجواب : كلنا قلنا نحرم تحية العلم في مرحلة من المراحل في حياتنا الدينية, نظرا لقصر فهمنا وقلة علمنا.

Jawaban Syaikh Usamah al Qushi, “Semua kita pernah mengharamkan hormat bendera pada salah satu fase kehidupan beragama kita mengingat kedangkalan pemahaman dan terbatasnya ilmu kita.

فقلنا نقول إنما الوقوف خشوعا يكون لله وحده لا شريك له وهذا صحيح, الوقوف خشوعا تدينا عبادة, هذا لا يكون لله إلا لله رب العالمين

Kami katakan bahwa berdiri dengan penuh penghinaan diri (tadzallul) hanya boleh untuk Allah semata, tanpa selainnya. Ini adalah keyakinan yang benar. Berdiri dengan penuh penghinaan diri, dalam rangka beribadah dan menghambakan diri hanya boleh untuk Allah Rabb semesta alam.

لا يصح أن نقف خاشعين تعبدا ولا حتى لرسولنا صلى الله عليه وسلم ولا لمشايخنا ولا لآبائنا تعبدا

Kita tidak diperbolehkan untuk berdiri dengan penuh penghinaan diri dan dalam rangka menghambakan diri bahkan untuk Rasulullah SAW, apalagi sekedar guru ataupun orang tua. Ingat yang tidak boleh adalah berdiri dalam rangka menghambakan diri.

أما احتراما لا، فهذا أمر من أمر الدنيا لا دخل له بالدين لا من قريب ولا من بعيد ولا يعتبر عبادة ولا يعتبر تدينا وبالتالي مثل هذا هو من العادات وليس من العبادات وعليه لا شيء فيه إن شاء الله

Sedangkan, berdiri menghormat itu lain. Berdiri menghormat itu termasuk urusan dunia dan sama sekali tidak terkait dengan agama, tidak dinilai sebagai ibadah dan agama.

Sehingga perkara semacam ini termasuk perkara non ibadah (yang pada dasarnya diperbolehkan), bukan termasuk perkara ibadah mahdhah. Berdasarkan hal itu maka berdiri hormat bendera Insya Allah tidaklah mengapa.”

Artikel ini ditulis oleh: