Ilustrasi - TikTok. ANTARA/cottonbro studio dari Pexels/pri.

Jakarta, aktual.com – Pernahkah Anda tersadar setelah satu jam menatap layar, merasa seolah-olah otak Anda terbungkus kabut tebal? Mata terasa perih, pikiran melambat, dan Anda kesulitan mengingat satu pun hal substansial dari ratusan video yang baru saja Anda geser. Dalam hal ini para ahli dibidang spesialis neuropsikologi mengidentifikasi fenomena ini sebagai mental fog kronis—sebuah manifestasi dari apa yang secara kolektif kini kita sebut sebagai “Brain Rot”.

Istilah ini bukan lagi sekadar bahasa gaul internet; ia telah dinobatkan sebagai Oxford Word of the Year 2024. Pilihan kata ini mencerminkan krisis kognitif global yang nyata. Tujuan artikel ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan distilasi ilmiah dari data neuroimaging terbaru—seperti fNIRS dan MRI—mengenai bagaimana konsumsi konten digital mengubah arsitektur saraf kita dan apa yang bisa kita lakukan untuk membangun ketahanan kognitif.

Bagi Generasi Z dan Alpha, Brain Rot adalah deskripsi jujur atas perasaan terasing dan tumpul secara intelektual. Namun, akar fenomenanya jauh lebih dalam. Jauh sebelum era algoritma, Henry David Thoreau dalam Walden (1854) sudah memperingatkan tentang atrofi kapasitas berpikir kritis manusia. Hari ini, ancaman tersebut berevolusi menjadi “deteriorasi intelektual” akibat konsumsi materi trivial secara masif.

“Brain rot adalah penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang, terutama yang dianggap sebagai hasil dari konsumsi materi secara berlebihan (khususnya konten daring) yang dianggap remeh, tidak menantang, atau menyebabkan desensitisasi emosional.” — Oxford University Press & Yousef et al. (MDPI, 2025)

Secara neurobiologis, ini adalah cerminan dari otak yang kelelahan karena terus-menerus dipaksa memproses informasi tanpa makna, yang pada akhirnya memicu penarikan diri secara sosial dan distorsi persepsi realitas.

Mengapa mematikan TikTok atau Reels terasa jauh lebih sulit daripada menutup buku? Jawabannya ada pada mekanisme “Dopamine Loop”. Algoritma video pendek dirancang untuk mengeksploitasi sistem hadiah (reward system) otak kita dengan memberikan stimulasi cepat yang memicu lonjakan dopamin jangka pendek.

Berbeda dengan membaca yang membutuhkan “gratifikasi tertunda” (delayed gratification), video pendek menawarkan “hadiah” instan dengan usaha kognitif nol. Berdasarkan data perilaku, siklus ini bekerja sebagai berikut:

  • Atensi: Perhatian ditangkap oleh visual yang cepat dan kontras.
  • Stimulus: Konten tak terduga (kejutan/emosi) memicu aktivasi fisiologis.
  • Respons: Pengguna melakukan swipe sebagai bentuk pencarian hadiah berikutnya.
  • Dopamin: Otak melepaskan lonjakan dopamin saat menemukan konten yang memuaskan.
  • Pencarian Ulang: Otak terkalibrasi untuk terus mencari “hit” berikutnya, memperkuat pola adiksi.

Penelitian neuroimaging terbaru (Zhang & Li, 2025) menggunakan functional Near-Infrared Spectroscopy (fNIRS) mengungkapkan bahwa adiksi video pendek menyebabkan perubahan signifikan pada Dorsolateral Prefrontal Cortex (DLPFC) dan Orbitofrontal Cortex (OFC). Melalui prinsip neuroplastisitas, otak yang terus-menerus terpapar stimulus cepat akan melakukan konfigurasi ulang yang memperlemah kontrol hambatan (inhibitory control).

Temuan paling krusial dari eksperimen Balloon Analogue Risk Task (BART) menunjukkan bahwa pecandu video pendek tidak hanya menjadi lebih berani mengambil risiko, tetapi mereka menjadi sangat impulsif terutama saat terpapar isyarat (cues) visual aplikasi.

Data menunjukkan bahwa ketika gambar latar belakang aplikasi video pendek muncul, pecandu menunjukkan sensitivitas yang sangat tinggi terhadap kerugian (loss sensitivity). Mereka cenderung mengejar hadiah yang lebih tinggi dengan sangat agresif meskipun risiko kegagalan (balon meledak) meningkat tajam. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang tetap melakukan scrolling meskipun sadar hal itu merugikan produktivitas atau waktu tidur mereka—sistem evaluasi risiko mereka telah “dibajak” oleh isyarat digital.

Selain itu, trait psikologis seperti iri hati disposisional (dispositional envy) ditemukan sebagai prediktor kuat yang memperparah adiksi ini, karena pengguna terjebak dalam lingkaran perbandingan sosial yang disfungsional.

Berdasarkan tinjauan literatur Brain Sciences (2025), kita harus membedakan dua perilaku destruktif ini:

  • Doomscrolling: Pencarian kompulsif terhadap konten negatif atau berita buruk. Ini menempatkan otak dalam status hyper-vigilance (waspada berlebih), yang memicu kecemasan kronis dan desensitisasi emosional.
  • Zombie Scrolling: Scrolling pasif tanpa tujuan (dissociative state). Ini adalah kondisi di mana individu kehilangan kesadaran akan waktu dan realitas, menyebabkan kelelahan kognitif yang mendalam meskipun tidak ada emosi kuat yang terlibat.

Beban Kognitif: Mengapa Otak Merasa Lelah Setelah “Bersenang-senang”

Anda mungkin merasa sedang “istirahat”, namun secara neuropsikologis, otak Anda sedang mengalami Extraneous Load (beban luar) yang masif.

1. Intrinsic Load: Kesulitan alami informasi (rendah dalam video pendek).
2. Extraneous Load: Beban dari cara informasi disajikan. Transisi cepat, musik yang tumpang tindih, dan teks simultan dalam video pendek memaksa memori kerja (working memory) bekerja melampaui batasnya.
3. Germane Load: Usaha membangun memori jangka panjang.

Dalam kondisi Brain Rot, beban luar yang terlalu tinggi menghambat Germane Load. Hasilnya? Informasi hanya lewat di permukaan, tidak tersimpan, dan meninggalkan kelelahan mental yang luar biasa.

Kabar baiknya, neuroplastisitas bekerja dua arah. Kita bisa melatih kembali otak kita untuk memulihkan kontrol inhibisi dan perhatian berkelanjutan (sustained attention).

1. Restorasi Kontrol Inhibisi: Gunakan app timers bukan hanya untuk membatasi waktu, tapi untuk melatih otot “berhenti” pada otak.
2. Curating for Quality: Berhenti mengikuti akun yang memicu emosi negatif atau iri hati disposisional. Paksa algoritma bekerja untuk kesehatan mental Anda.
3. Reintroduksi Media Lambat: Retrain otak dengan aktivitas yang membutuhkan fokus durasi panjang (membaca buku fisik atau menulis jurnal) untuk memulihkan fungsi DLPFC.
4. Socialize sebagai Proteksi: Berdasarkan data dari Recovered.org, interaksi sosial dunia nyata adalah faktor pelindung terkuat melawan adiksi digital. Hubungan nyata menurunkan kebutuhan otak akan stimulasi dopamin artifisial.
5. Detoks Dopamin Realistis: Mulailah dengan satu jam pertama di pagi hari tanpa layar untuk membiarkan sistem saraf melakukan kalibrasi ulang secara alami.

Brain Rot bukan sekadar istilah komedi Gen Z; ia adalah deskripsi akurat tentang bagaimana ekosistem digital dapat mengikis kapasitas intelektual kita. Data fNIRS dan MRI telah membuktikan bahwa perubahan itu nyata—mulai dari overload pada sistem eksekutif hingga hilangnya sensitivitas terhadap risiko.

Namun, kendali tetap ada di tangan Anda. Otak Anda adalah organ yang paling adaptif di alam semesta. Pertanyaannya: Apakah Anda akan membiarkan algoritma membentuk arsitektur saraf Anda, atau Anda akan mengambil alih kemudi perhatian Anda mulai hari ini?

Referensi

  • Frontiers in Human Neuroscience (2025). “How short video addiction affects risk decision-making behavior in college students based on fNIRS technology” (Zhang & Li).
  • MDPI Brain Sciences (2025). “Demystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era: A Review” (Yousef et al.).
  • ScienceDirect (2025). “Potential Effect of Short Video Usage Intensity on Short Video Addiction and Attention Control”.
  • Revere Health (2025). “Brain Rot: How Short-Form Videos Are Changing Our Brains and Attention Spans”.
  • Recovered.org (2025). “Hijacked by Reels: Insights on Short-Video Addiction and Decision-Making”.
  • ICNS (2025). “Why repeated consumption of short videos causes negative changes in the nervous system”.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain