Jakarta, aktual.com – Periset di Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Muhayatun mengatakan teknik analisis nuklir dapat mengidentifikasi atau melakukan karakterisasi polutan berupa partikulat halus berukuran 2,5 mikrometer yang berbahaya bagi kesehatan.

“Kita melakukan karakterisasi secara utuh apa yang mencemari berdasarkan pemanfaatan teknologi nuklir terkait dengan particulate matter (PM),” kata Muhayatun dalam acara G.A. Siwabessy Memorial Lecture 2022 yang dipantau virtual di Jakarta, Senin (12/12).

Muhayatun menuturkan teknik analisis nuklir dapat memberikan informasi akurat mengenai jenis dan kontribusi sumber pencemar sehingga regulasi bisa dibuat secara lebih tepat untuk mereduksi dan mengeliminasi kecenderungan untuk melebih-lebihkan atau mengabaikan suatu sumber pencemar.

Ia mengatakan PM 2,5 mikrometer dapat mempenetrasi jauh ke dalam tubuh hingga masuk ke dalam organ yang paling dalam sehingga berbahaya bagi kesehatan. PM 2,5 juga dapat tinggal lama di atmosfer dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Polutan yang paling bahaya adalah PM 2,5 selain ozon,” ujar peneliti di Pusat Riset Teknologi Deteksi Radiasi dan Analisis Nuklir ORTN BRIN itu.

Ia mengatakan PM 2,5 memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan manusia dan kualitas atmosfer lingkungan. Partikulat yang mengandung logam berat dapat menyebabkan keterbelakangan mental bagi anak-anak dan bisa mengakibatkan penyakit kanker.

Oleh karena itu, menurut Muhayatun, perlu dilakukan karakterisasi konsentrasi kandungan massa pada PM 2,5 di udara. Semakin tinggi konsentrasi PM 2,5 maka rasio tingkat kematian semakin tinggi.

“Jika kita mampu, teknologi nuklir mampu mendeteksi konsentrasi massa komposisinya seperti apa saja, maka komposisi kimia ini akan berperan untuk kita menentukan sumber polutannya kemudian kita ases (menilai) risiko pencemaran lingkungan dan studi dampak kesehatan dan pencemaran yang terjadi,” tuturnya.

Particulate matter (PM) adalah kumpulan partikel padat atau cair yang ditemukan di udara. Komponen utama dari PM adalah sulfat, nitrat, amonia, natrium klorida, karbon hitam, mineral debu dan air.

Keberadaan PM di udara erat kaitannya dengan peningkatan angka kematian dan kasus penyakit dari waktu ke waktu. PM 2,5 merupakan partikulat polutan dengan diameter aerodinamik kurang dari 2,5 mikrometer, yang lebih kecil dari diameter rambut yang sekitar 70 mikrometer.

Dengan mampu menentukan atau mengetahui karakterisasi polutan atau sumber pencemar, maka dapat dilakukan upaya efektif mengurangi pencemaran yang terjadi di suatu daerah.

“Kita harus mampu menentukan sumber pencemarnya. Dari sumber pencemar yang ada kita akan mampu mengidentifikasi jenis sumber pencemar tersebut dan berapa kontribusinya,” ujarnya.*

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)