Ketua Muda bidang Tata Usaha Negara (TUN) di Mahkamah Agung RI, Prof. Dr. Supandi, S.H., M.Hum, saat bedah buku 'Bocah Kebon dari Deli' yang diselenggarakan Aktual Forum, Jakarta, Jumat (17/9/2021)
Ketua Muda bidang Tata Usaha Negara (TUN) di Mahkamah Agung RI, Prof. Dr. Supandi, S.H., M.Hum, saat bedah buku 'Bocah Kebon dari Deli' yang diselenggarakan Aktual Forum, Jakarta, Jumat (17/9/2021)

Jakarta, Aktual com – Kehidupan di perkebunan era dulu, ternyata tak sesuram yang dibayangkan. Banyak sisi indah dan kenikmatan yang juga tergambarkan. Ini yang tampak tatkala membaca buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’, buku biografi Prof. Dr. Supandi, SH, M.Hum, Ketua Muda bidang Tata Usaha Negara (TUN) Mahkamah Agung RI. Masa kecilnya yang berada di perkebunan tembakau Deli yang terkenal, memiliki banyak sisi kenikmatan.

Supandi, merupakan keturunan dari Raden Matkasan, seorang ‘Tumenggung’ Keraton Surakarta. Sang Tumenggung, memiliki salah seorang anak bernama Ki Tirtoleksono. Beliau menetap di Desa Tlutup, Juwana, Pati, Jawa Tengah. Selepas Perang Diponegoro (1825-1830), Raden Matkasan dan pasukannya yang berpihak pada Pangeran Diponegoro, menetap di Desa Tlutup, meninggalkan Keraton Surakarta. Cucunya, Ki Ibrahim, kemudian lari ke Deli dari Semarang. Inilah kakek kandung Supandi.

Di Deli, Ki Ibrahim melahirkan anak yang bernama Ngadimun, ayah kandung Supandi. Ngadinum dan istrinya, Ngadinem, besar di lingkungan perkebunan Saentis, di Sumatera Utara. Daerah itu merupakan salah satu basis perkebunan tembakau milik Deli Maatchapij, perusahaan tembakau Deli yang terkenal. Disitulah sekuel kehidupan Supandi kecil dilakoni di perkebunan.

Ternyata, kehidupan anak-anak kebon, bukanlah nestapa, kumuh, dan terbelakang. Melainkan penuh dengan kenikmatan, kegirangan, dan beragam tawa yang tergambar dari anak-anak kebon. Buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ mengungkap sisi tersebut. Ini salah satu petikan dalam kisah ‘Bocah Kebon Dari Deli’ yang membuat kita bisa merasakan kenikmatan tatkala hidup di perkampungan. Seperti yang dikisahkan dalam buku itu, bak novel yang ditulis dari kisah nyata.

“Ini ketika masih di Tembung. Pagi-pagi ayah saya sudah datang. Saya masih tinggal di Tembung bersama Mbah Sariman dan Mbah Cublik. Hari itu ayah saya, Ngadimun bin Ibrahim alias Sujak, memang sengaja datang untuk menjemput saya. Maklum, umur saya sudah enam tahun. Umur segitu masa itu, sudah waktunya untuk masuk sekolah. Belum ada Sekolah Dasar (SD). Masih disebut Sekolah Rakyat (SR).

Ayah menjemput saya karena di Tembung tak ada sekolah yang dekat. Makanya saya nantinya disekolahkan ke Saentis, tempat ayah tinggal bersama ibu. Jadinya saya pun berpindah ke Saentis. Jarak dari Saentis ke Tembung sekitar 30 kilometer. Ayah datang dengan bersepeda. Sepeda ontel yang antik sekali. Masa itu, sepeda menjadi kendaraan untuk berpergian. Sepeda motor masih barang mahal sekali. Apalagi mobil. Itu hanya kendaraan orang superkaya jaman itu. Memiliki sepeda saja dianggap sudah memiliki barang berharga. Karena orang-orang lalu lalang dengan jalan kaki juga masih banyak dan lumrah.

Saya pun bersiap ikut ayah karena telah dijemput. Mbah Sariman diam saja. Seperti biasa, dia memang tak banyak bicara. Hanya bicara seadanya. Beliau orangnya sangat rajin. Dia menggarap lahan hampir 1 hektare lebih. Itu yang jadi peninggalannya. Mbah Sariman mengajarkan bagaimana cara memelihara kambing, seperti memelihara anaknya sendiri. Di lahan itu, dia menanam sayur mayur banyak sekali. Itu menjadi panganan sehari-hari. Tak perlu beli. Ada juga pohon kelapa, ubi kayu, terong, kacang panjang dan lainnya. Itulah pelajaran berharga dari Mbah Sariman dan Mbah Cublik. Kedepannya ketika saya bekerja dan melihat lahan kosong ketika di Akademi Penerbangan, saya pun mempraktekkan ajaran dari Mbah saya itu. Saya menanam singkong, jagung dan lainnya dalam jumlah besar. Hasilnya bisa untuk membantu biaya kuliah saya juga. Itu pentingnya memiliki keahlian mengolah lahan, hingga kita bisa menjadi mandiri.

Kadang Mbah Sariman menjual juga hasil pertaniannya itu ke pasar. Sekedar untuk membeli bahan-bahan kebutuhan rumah tangga yang tak bisa didapat dari pertanian. Begitulah kehidupannya. Sederhana tapi sebernarnya itulah yang disebut ‘orang kaya’. Karena segala keperluan kehidupan telah disediakan oleh alam.

Saya pun kembali ke Saentis bersama ayah. Dengan naik sepeda. Saya dibonceng di belakang. Ayah juga orang yang petarung. Dia pernah masuk militer, bergabung di Angkatan Laut. Dan terakhir ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Dia berperang keluar masuk hutan. Kegigihannya itu yang mendarah daging dalam tubuh saya.

Di Saentis, ayah tinggal di rumah perkebunan. Karena terakhir dia bekerja sebagai buruh di perkebunan. PTP IV. Rumahnya sederhana sekali. Dindingnya terbuat dari papan. Atabnya dari daun rumbia. Lantainya hanya tanah. Bukan semen atau keramik. Gaji ayah sangat kecil bekerja di situ. Mungkin hanya cukup untuk keperluan seminggu saja.

Tapi rumah itu dilengkapi pekarangan yang luas. Sekitar setengah hektare. Di halaman itu ayah, ibu dan kakak-kakak saya membuat kandang kambing, sapi dan bisa ditanami sayur mayur juga. Ada singkong, kelapa, ubi, pisang, dan lainnya.

Tak jauh dari perkampungan itu, ada hutan. Oleh perkebunan memang sengaja dihutankan. Jadi selama 5 tahun, tempat itu bisa dijadikan tempat pengembalaan kambing dan sapi. Disitulah hidup saya. Kadang untuk membiayai sekolah anak-anaknya, ayah harus menjual kambing lebih dulu. Karena pendapatan dari gaji sangat tidak mencukupi.

Pernah suatu kali saya diajak ayah menemui Nek Sonem. Ini kenalan ayah. Sebetulnya masih ada hubungan saudara. Kami naik sepeda. Saya dibonceng di belakang. Di kampung itu sebetulnya sudah seperti keluarga semuanya. Saya di bawa ke rumah Nek Sonem. Kemudian Nek Sonem menghadiahi ayam. Namanya ayam ‘bloro’. Nek Sonem menangkap ayam itu. Kemudian dia memotong ekor ayam itu. Lalu saya disuruh meludahi mulut ayam itu.

“Itu supaya ayam ini serasi dengan kamu, Le,” katanya.

Saya pun manggut saja. Mengikuti saja apa yang diperintahkan. Karena memang orang tua selalu memberikan banyak wejangan dan pelajaran berharga.

Saya juga diberikan entok sepasang. Bebek anakan sekitar 10 ekor.

“Bawa pulang ya, Le..,” katanya.

Nenek Sonem itu baik sekali. Memang ada hubungan saudara jauh dari Bapak saya. Dan ternyata benar. Keesokan harinya saya pelihara ayam itu dan ternyata menghasilkan telur yang banyak dan anak ayamnya pun banyak. Itu yang dianggap serasi. Ludah itu dianggap sebagai pertalian antara hubungan manusia dan peliharaannya.

Jadi saya bisa memelihara ayam, bebek, entok dengan banyak sekali. Karena di samping rumah saya ada aliran parit. Ada saluran parit yang mengalir sampai wilayah Medan Estate, dan terus mengalir hingga selat Malaka. Sungai kecil itu pas melewati samping rumah saya. Jadi disitu bisa dimanfaatkan untuk memelihara ayam, bebek, dan entok tadi. Itu yang membuat binatang-binatang itu keriangan. Karena mereka tetap hidup di alam yang asri.

Parit dari sungat kecil itu kami bersihkan. Kemudian jadi rapi dan indah. Kami beri pagar supaya bebek, angsa, entok dan lainnya bisa bermain-main di parit tersebut. Jadi kami seperti punya kolam sendiri. Yang sangat pas untuk memelihara binatang itu. Saya lihat setiap hari, mereka sangat senang sekali.

Kadang-kadang di parit itu saya memancing ikan. Kadang dari hasil pancingan, saya mendapat ikan gabus. Lalu saya goreng dan buat makan. Wah enak sekali rasanya.

Ayam, bebek, entok, angsa, juga kadang makan ikan dari parit itu. Kami seperti punya peternakan lengkap dengan kolamnya. Itulah fasilitas yang diberikan Tuhan kepada kami.

Jadi walau secara ekonomi kami tak memiliki uang cash yang banyak, tapi sebetulnya kami memiliki segalanya. Jadi gaji Bapak dari perkebunan, sangat tidak cukup. Mungkin untuk makan seminggu, pasti akan kurang. Tapi waktu itu PTP memberikan jatah ransum. Isinya beras, kacang hijau, susu dan lainnya. Itu bisa buat tambahan keperluan sehari-hari.

Alhasil saban hari saya bisa memunguti telor ayam, telor angsa, telor bebek dan lainnya. Itu sangat indah sekali. Itu yang di rumah. Kami juga memelihara kambing dan sapi. Ini hasil pemeliharaan ayah saya. Tapi setiap siang sepulang sekolah, saya yang menggembalakan kambing dan sapi itu ke hutan. Disitulah epos saya sebagai anak gembala dimulai.

Karena saya menggembala bersama anak-anak kebon dari wilayah itu. Sekitar sepuluhan orang saban hari, kami menggembala di tengah hutan. Makanya kami dipanggil ‘bocah kebon.’

Buku 'Bocah Kebon Dari Deli' di toko buku Gramedia, Jakarta
Buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ di toko buku Gramedia, Jakarta

Buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ diluncurkan sejak pertengahan bulan lalu. Kini buku itu terjual bebas di toko buku Gramedia. Semenjak diluncurkan, buku itu diserbu para pembaca. Gubernur Sumatera Utara, Letjend (Purn) Edy Rahmayadi, turut berkomentar tentang buku tersebut. “Semua orang saya harap membaca buku Bocah Kebon Dari Deli ini,” paparnya dalam acara bedah buku yang diselenggarakan Aktual Forum, pekan lalu.

(A. Hilmi)