Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan (kiri) dan Hendra Setiawan (kanan) menggigit medali emasnya sambil mengibarkan bendera Merah Putih seusai upacara penganugerahan medali babak final Kejuaraan Dunia Bulutangkis Total BWF 2015 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (16/8). Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan berhasil menjadi juara dunia ganda putra seusai mengalahkan lawannya ganda putra Tiongkok Liu Xiaolong dan Qiu Zihan dengan skor 21-17 dan 21-14. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/kye/15.

Jakarta, Aktual.com — Meski gagal total di Olimpiade London 2012, bulu tangkis tetap menjadi tumpuan ‘tradisi emas’ Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 mendatang. Hal tersebut seperti Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Djoko Pekik Irianto.

“Jika dibandingkan angkat besi, panahan, dan judo yang paling tinggi masih bulutangkis. Kemarin memang sempat bicara dengan Bapak Ketua Umum PBSI, dua medali emas bisa saja dapat meski agak berat. Tapi gambaran kami secara teknis bulutangkis paling jeleknya 1 medali emaslah, peluangnya ada ganda putera dan campuran barang kali,” kata Djoko kepada wartawan.

Saat ini, tiga nomor ganda Indonesia masih menjadi tumpuan dan juga memang diperhitungkan diajang internasional. Mereka adalah ganda putra Mohammad Akhsan/Hendra Kurniawan, Ganda Campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir, dan ganda putri Gresya Poli/Nitya Maheswari.

“Kami pun berani menentukan dua medali emas pun ada hitung-hitungannya, selain kuantitas kami juga lihat prospek bulutangkis itu masih memungkinkan,” kata dia.

Kontingen Merah Putih bisa saja bertambah jika Paveen/Debby dan Angga/Ricky bisa mengumpulkan poin untuk duduk di rangking 8 dunia sebagai batas akhir atlet yang akan bertanding di olimpiade.

Selain bulutangkis, panahan juga punya peluang menyumbangkan emas. Dalam waktu delapan bulan tersisa, diharapkan persiapan cabor-cabor yang akan mewakili Indonesia di Olimpiade.

“Angkat besi dan panahan jangan dipandang sebelah mata. Sebab Ika Yuliana Rochmawati tampil lumayan di Olimpiade London. Tinggal bagaimana menjaga atletnya dari segi latihan dan lainnya,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh: