Jakarta, Aktual.com – Peran BUMN dalam menggelar pembangunan di negeri ini tak pernah henti. Dan dalam lima tahun ini, kontribusinya kian terlihat tatkala terlibat langsung dalam menyukseskan pembangunan infrastruktur.

Mereka mampu menyeimbangkan peran negara untuk menyejahterakan rakyat serta peran korporasi yang mencari profit sebanyak mungkin.

Hal ini disebutkan oleh Sekretaris Kementerian BUMN, Imam A. Putro dalam acara RRI-BUMN Award, yang digelar RRI dan Iconomics Research and Consulting, di Jakarta, Kamis (26/9).

Menurut Imam, di awal-awal masa pemerintahan Joko Widodo dan di bawah kepemimpinan Menteri BUMN Rini Soemarno, sudah dipetakan arah pergerakan BUMN ke depannya.

“Pemetaan itu untuk menentukan apa saja yang menjadi challenge selama ini dan terus berupaya agar BUMN senantiasa bergerak membangun. Dan hasil dari pembangunan BUMN ini sudah terlihat saat ini,” tutur Imam.

Sebagai contoh, kata dia, dulu itu bicara pembangunan adalah Jawa sentris. Karena pembangunan itu hanya terkonsentrasi di pulau Jawa. “Tapi sekarang sudah Indonesia centris. Apalagi hasil karya dari BUMN ini 99 persen disukai kalangan milenial,” katanya.

Dan kini dengan pembangunan infrastruktur yang diusung BUMN, kata dia, sebagai negara kepulauan banyak daerah-daerah yang semula tak dapat layanan kini sudah terlayani semua. Terutama dalam lima tahun terakhir.

Bram S. Putro, CEO Iconomics mengimbuhkan, BUMN adalah reprsentasi negara, untuk itu BUMN memilki tanggung jawab membantu pemerintah mewujudkan cita-cita luhur berdirinya negara yaitu mensejahterakan rakyat.

Dalam hal ini, sudah banyak bukti betapa besarnya kontribusi BUMN dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Salah satu contohnya, pembangunan infrastruktur.

“Tanpa sinerigi BUMN, infrastruktur sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi tak akan dibangun dengan cepat,” ucapnya.

Namun begitu, BUMN juga adalah sebuah korporasi yang secara alamiah berdiri dengan tujuan mencari profit atau keuntungan. Dalam upaya mencari profit ini, BUMN bersaing sekaligus bersinergi dengan sesama BUMN. Dan tentunya juga bersaing dengan pihak swasta.

Karena itulah, ujarnya, aspek-aspek seperti penguasaan pasar (market domination), brand awareness, customer satisfaction dan social economy contribution menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan sebuah perusahaan BUMN.

“Dan bagi BUMN yang sudah menjalankan tugas dan peran dengan baik itu kami berikan apresiasi agar kinerjanya terus terpacu dan menginsipirasi BUMN lainnya,” tegas Bram.

Apresiasi ini diberikan dengan mempertimbangkan empat kategori, pertama, market domination yaitu penghargaan kepada BUMN yang berhasil menjadi market leader di tengah persaingan yang ketat di industri yang menjadi core bisnisnya.

Kedua, brand awareness dan brand image yaitu apresiasi kepada BUMN yang berhasil menjaga citra dan reputasi perusahaan di tengah persaingan ketat. Ketiga, customer service quality yaitu apresiasi kepada BUMN yang berhasil memberikan pelayanan yang baik kepada customer baik secara offline maupun online.

“Dan keempat, social economy contribution, yaitu apresiasi kepada BUMN yang memberikan kontribusi social ekonomi yang besar kepada masyarakat,” jelasnya.

Dan untuk menentukan pemenangnya, salah satu metode yang digunakan adalah melalui metode survey di 10 kota dengan jumlah responden 10.000 lebih.

“Responden dalam survey ini adalah para milenial yang dibagi dalam dua kelas, yakni kelompok usia dari early milenial, mid milenial sampai late milenial. Dan selanjutnya kelompok milenial berdasarkan pengasilan dari low income, mid income dan high income,” tutur dia.

Akhirnya, dari penilaian-penilaian tersebut, terdapat 41 perusahaan yang mendulang penghargaan dari beragam kategori, baik itu perusahaan BUMN sendiri maupun anak usaha BUMN.

(Zaenal Arifin)