Presiden Soekarno menugaskan Letjen Soeharto selaku Pengemban Tap MPR No IX/1966 untuk pembentukan Kabinet Ampera. Letjen Soeharto menjadi Ketua Presidium kabinet tersebut. Bung Karno sedang mengumumkan susunan kabinet tersebut pada tanggal 25 Juli 1966. Letjen Soeharto dan Menteri Utama Adam Malik duduk mendengarkan (Foto: Arsip Kompas)
Presiden Soekarno menugaskan Letjen Soeharto selaku Pengemban Tap MPR No IX/1966 untuk pembentukan Kabinet Ampera. Letjen Soeharto menjadi Ketua Presidium kabinet tersebut. Bung Karno sedang mengumumkan susunan kabinet tersebut pada tanggal 25 Juli 1966. Letjen Soeharto dan Menteri Utama Adam Malik duduk mendengarkan (Foto: Arsip Kompas)

Jakarta, Aktual.com –

Menurut pendapat saya yang didasari oleh pengalaman, seorang politisi dapat dikatakan berhasil menjalankan misinya, kalau ia dapat memelihara kontinuitas kegiatan politiknya untuk menyebarkan ide-idenya, sehingga dapat mewujudkan ide-ide itu dalam kenyataan berkat sudah tertanam di kalangan masyarakat. (Adam Malik, Mengabdi Republik Jilid II)

Buat generasi sekarang, nama Adam Malik mungkin semakin samar-samar dan sayup-sayup terdengar di kalangan generasi muda kelahiran 1980-an dan 1990-an. Padahal Putra kelahiran Pematang Siantar 22 Juli 1917 ini, bukan sekadar seorang politisi biasa di pentas sejarah politik nasional Indonesia. Puncak karir beliau dicapai pada masa pemerintahan Presiden Suharto, sebagai menteri luar negeri RI (1973-1983) dan wakil presiden(1978-1983). Pada 5 September 1984 Bung Adam si Kancil wafat dalam usia 67 tahun.

Siapa Adam Malik sesungguhnya dan apa hebatnya sosok yang punya bakat sebagai wartawan, diplomat dan politisi tersebut? Ada baiknya kita bedah profil Bung Adam menurut pandangan dirinya sendiri. Dalam memoarnya bertajuk Mengabdi Republik yang terdiri tiga jilid Bung Adam menulis: “Menjadi politikus adalah naluri pribadinya yang terbina oleh lingkungan hidupnya sejak kecil.”

Tak heran jika Bung Adam merintis karir politiknya sebagai Ketua Partai Indonesia(Partindo) Pematang Siantar dan Medan pada 1934. Partindo merupakan pecahan dari Partai Nasional Indonesia yang kemudian terbelah kedua antara Partindo yang berada di bawah kepemimpinan Bung Karno, dan Pendidikan Nasional Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Hatta.

Melalui kiprah politiknya di Partindo Pematang Siantar dan Medan Sumatra Utara, Bung Adam mulai terbentuk kesadaran ideologisnya yang berorientasi kerakyatan. Ia melihat dan merasakan adanya ketidakadilan sosial yang disebabkan oleh sistem pemerintahan kolonial Belanda yang serba menakan, dan mengeksploitasi habis-habisan tenaga buruh dan kuli-kontrak di kota kelahirannya.

Kesadaran dan wawasan politik Bung Adam semakin mendalam ketika pada usia 17 tahun hijrah ke Jakarta atau Betawi, sebutan ibukota kita kala itu. Namun perjalanan politik Bung Adam ini jadi unik ketika sesampainya di Jakarta, karena kemudian bergabung juga dengan Partai Republik Indonesia(PARI) yang didirikan oleh Tan Malaka pada Juni 1927. Pada satu sisi, melalui afiliasinya dengan Partindo, Bung Adam merupakan kader politiknya Bung Karno, sedangkan ketika bergabung dengan PARI, Bung Adam juga cukup akrab dengan kader-kader Tan Malaka yang kelak dikenal sebagai kader-kader Partai Murba.

Ceritanya bermula ketika Bung Adam tiba di Jakarta, sosok yang dia hubungi adalah Yahya Nasution, karena merupakan satu-satunya orang yang dikenalnya di Jakarta. Kebetulan Yahya Nasution ini merupakan “Pemain Kunci” di PARI-nya Tan Malaka. “Dia adalah orang dengan semangat yang tak pernah redup, seorang agitator dalam Partai Republik Indonesia(PARI). Kemudian barulah saya dengar bahwa dia diawasi secara ketat oleh polisi rahasia Belanda(PID) yang mencatat semua gerak-geriknya dan semua orang yang berhubungan dengannya,” begitu penuturan Bung Adam ihwal sosok Yahya Nasution dalam memoarnya.

Maka bisa dimengerti jika pada perjalanan politik Bung Adam selanjutnya, beliau lebih sering dipandang sebagai pentolan Partai Murba(bentuk lain dari PARI, setelah Tan Malaka mendirikan Partai Murba tak lama berselang setelah Indonesia merdeka). Sebab jaringan politik dan para aktor kunci PARI dan Murba sejatinya sama saja.

Apalagi ketika Yahya Nasution akhirnya dibuang ke Digul, rumahnya di Pinangsia 38, dulunya bernama Buitenstijgerstraat, kemudian diwariskan kepada Adam Malik dan kawan-kawannyta sebagai Kantor Berita Antara. Kantor Berita Antara itu sendiri didirikan pada 13 Desember 1937. Namun sebagaimana penuturan Bung Adam dalam memoarnya ketika sempat diinterogasi oleh polisi rahasia Belanda: Saya tetap teguh dan tegas dalam keterangan saya, bahwa saya tak ada hubungan sama sekali dengan PARI.”

Tentu saja pernyataan itu merupakan sebentuk kecerdasan dan ketangkasan Adam untuk berkelit agar lolos dari penangkapan pemerintah kolonial Belanda. Namun kalau kita pandang dalam perspektif kekinian, sebenarnya kalau sejauh terkait dengan PARI maupun yang kemudian bernama Murba, Adam Malik sama sekali tidak berbohong. Secara ideologis dan emosional, Bung Adam tetap kader nasionalis yang lebih diwarnai oleh paham nasionalisme-nya Bung Karno dan Partindo. Kedekatan dan keakrabannya dengan kalangan kader-kader Murba agaknya lebih didasari perkawanan dengan Yahya Nasution dan orang-orang dekatnya yang kebetulan punya relasi ideologis dan politis dengan Tan Malaka.

Namun justru di sinilah unik dan istimewanya sosok Adam Malik. Karena ketika pada akhirnya toh Adam memutuskan bergabung dengan PARI tak lama berselang sejak dirinya dipenjara di Struiswijk (Gang Tengah) antara 1935-1936, dalam pandangan Bung Adam bergabung dengan PARI berarti perluasan dan pengembangan lingkup kegiatan politik yang lebih luas dari kiprah sebelumnya di Partindo. Bukan kutu loncat.

Bagi Adam, bergabung dengan PARI bukan karena Partindo dibubarkan pemerintah kolonial Belanda dan juga bukan sekadar alternatif Partindo sebagai jalan untuk melanjutkan karir politik. Adam bergabung dengan PARI karena menurut pengertiannya partai ini merupakan tempat bergabungnya kaum nasionalis radikal yang berapi-api, yang mencurahkan seluruh perhatian untuk mencapai Indonesia Merdeka dalam rangka Republik Kesatuan. Berdasarkan Sistem Demokrasi Politik dan Ekonomi menurut Kepribadian Indonesia sendiri.

Jika merujuk pada rumusan Adam itu, baginya PARI sama sekali tidak bertentangan dan berseberangan secara ideologis dengan Partindo-nya Bung Karno. Jadi didalam pengertian Bung Adam, meskipun PARI dan Tan Malaka sering ditengarai sebagai berhaluan komunis, sama sekali tidak berdasar. Karena PARI sejatinya berhaluan nasionalisme kerakyatan, sama persis dengan garis politik Bung Karno dan Partindo.

Hal ini terbukti ketika Indonesia sudah merdeka, dan nahkoda pemerintahan berada di tangan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang cenderung kompromis dan memberi konsesi-konsesi yang menguntungkan Belanda melalui perundingan diplomasi, Bung Adam dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka, merujuk pada prinsip-prinsip perjuangan PARI untuk merumuskan Program Minimum Indonesia Merdeka 100 persen pada 1946.

Minimum Program itu pada pokoknya mensyaratkan perundingan dengan pihak kolonial hanya bisa dilakukan, setelah RI diakui seratus persen dan pasukan musuh meninggalkan pantai serta perairan Indonesia. Melalui Prinsip dan jiwa semangat PARI serta Persatuan Perjuangan inilah, kemudian melahirkan terbentuknya Partai Murba pada 3 Oktober 1948 dengan pimpinannya antara lain Sukarni, Maruto Nitimiharjo, Sutan Dewanis, Syamsu Haryo Udaya, Pandu Kartawiguna dan Adam Malik.

Ketika Indonesia sudah sepenuhnya merdeka dan mendapat pengakuan Belanda melalui Konferensi Meja Bundar, Murba yang tentunya juga Adam Malik, mendukung Demokrasi Terpimpin yang pada hakekatnya merupakan Demokrasi Sentralisme. Dan mendesak Bung Karnoi agar menghapus UUD 1945 dan kembali ke UUD 1945. Sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.

Namun demikian, Bung Adam sama sekali tidak memandang Tan Malaka sebagai satu-satunya referensi politik bagi kiprahnya di dunia pergerakan politik. Bagi Adam, Tan Malaka sangat berkontribusi dalam menguraikan konsepsinya untuk perjuangan kemerdekaan. Adapun dari Bung Hatta, Adam memperoleh bimbingan pertama lewat tulisannya yang kelak kita kenal sebagai naskah pembelaan Bung Hatta di Mahkamah Belanda pada 1928, bertajuk Indonesia Vrij.

Dari Bung Karno, Adam Malik mendapat tuntunan politiknya pertama kali melalui naskah tulisannya Mencapai Indonesia Merdeka, yang ditulis oleh presiden pertama RI tersebut setelah keluar dari penjara Sukamiskin Bandung pada 1931. Ketiga tokoh sentral kemderkaan Indonesia tersebut mendapat apresiasi yang setinggi-tingginya dari Adam Malik melalui memoarnya.

Bagaimana menjelaskan seluruh rangkaian keberhasilan politik Adam Malik sebagai tokoh pejuang Angkatan 1945, politisi partai, duta besar di Uni Soviet dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menteri luar negeri dan mencapai puncaknya sebagai wakil presiden?

Pakar politik Universitas Indonesia Dr Juwono Sudarsono punya penilaian dan rumusan yang cukup menarik dalam meringkas seluruh kiprah dan perjalanan politik Adam Malik sejak 1934 hingga ajal menjemputnya pada 1984: “Kecerdasan yang berakar dari kepercayaannya terhadap kearifan yang ada pada orang awam itulah yang membuat ia tak pernah merasa kecil berhadapan dengan para ahli, dari kalangan profesi apapun dan dari bangsa manapun. Hal yang berharga yang tak terdapat dalam pelajaran-pelajaran dan kajian-kajian para ilmuwan politik sekalipun.”

Sebagai sosok politisi nasional, cinta pertama Adam Malik adalah pada masalah-masalah kemasyarakatan yang ada di tanah air. Karena itu fokus perhatian yang digelutinya selalu seputar masalah sosial dan pembangunan politik-ekonomi dalam negeri.

Begitulah apa danya Adam Malik. Perkataan dan buah Pikirannya mencerminkan cara pandang khas orang awam namun cerdas dan penuh perasaan. Adapun perilaku dan tindakannya sebagai politisi, merupakan sebuah gambaran kemampuan dan bakat alamiahnya yang luarbiasa dalam merangkai dan mengaitkan hal-hal yang tampak semula sebagai satuan-satuan yang berkeping-keping.

Sosok politisi sejenis Adam Malik, amat langka dalam khazanah politik nasional Indonesia saat ini.

Hendrajit

(Hendrajit)