Jakarta, Aktual.com — Beberapa hari terakhir, munculnya orang maupun kelompok radikalisme dengan melakukan aksi terorisme membuat Ulama, Cendekiawan, dan tokoh agama, serta Akademisi menjadi prihatin. Akibatnya, Islam yang berpegang pada ajaran ‘Ahlusunnah Wal Jamaah’ menjadi buruk oleh ulah segelintir oknum atau kelompok dengan mengatasmakan jihad.

Kewaspadaan dan kekhawatiran itu digawangi oleh STAIN Pekalongan. Sebagai Perguruan Tinggi Islam di wilayah Pantura Pekalongan bertekad menjadi pelopor Islam Nusantara dengan basis ‘Rahmatan Lil Alamin’.

“Sesuai dengan visi kita yakni menjadi Perguruan Tinggi berbasis riset menuju Islam ‘rahmatan lil alamin’. Maka, kami menyatakan siap menjadi pelopor mengusung Islam Nusantara,” kata Ketua STAIN Pekalongan, Ade Dede Rohayana saat membuka talkshow bertema “Mendawamkan Islam Nusantara sebagai basis Rahmatan Lil Alamin” di kampus setempat, Jumat (27/11) petang.

Ia menegaskan, kesiapan civitas akademika menjadi pelopor mengusung Islam Nusantara, karena citra Islam belakangan terpuruk. Akibat sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam.

Seperti insiden serangan teror atau pengeboman di Paris yang menelan ratusan warga. Aski terorisme itu yang disebut-sebut umat Islam sebagai bentuk terorisme.
“STAIN dan mahasiswa siap menjadi pelopor Islam Nusantara. Kita akan menjadi benteng menggawangi kelompok radikalisme itu,” beber dia.

Dihadapan ratusan Mahasiswa dan pengunjung, pihaknya secara tegas menyatakan menjadi kampus yang mempelopori Islam Nusantara. Dalam kesempatan itu, hadir pula Maulana Al Habib Luthfi bin Ali bon Yahya (Rais Aam jamiyah Ahlu Thariqah al Mu’tarabah an Nahdiyah), KH Sholahudin Wahid (pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang), Ngatawi Al-Zastrow (budayawan) dan Habib Ali Zainal Abidin Assegaf.

()