Jakarta, Aktual.com — Awan negatif tampaknya masih menyelimuti laju IHSG hingga akhir pekan kemarin. Aksi jual pun juga belum menunjukkan adanya penurunan. Saham-saham big caps antara lain GGRM, BBRI, PGAS, AALI, tak luput dari aksi jual meski ada juga yang masuk dalam top gainer seperti UNTR, UNVR, SMGR, INTP.

“Turn over saham yang cepat dalam perdagangan di akhir pekan memberikan tingkat volatilitas pada pelemahan IHSG secara menyeluruh. Pelaku pasar merespon terus melemahnya laju Rupiah,” ujar analis pasar modal, Reza Priyambada di Jakarta, Sabtu (8/8).

Selain itu, Pelemahan IHSG terdampak adanya pernyataan BI terkait masih adanya potensi penurunan pertumbuhan penyaluran kredit di semester kedua, hingga belum jelasnya wacana/isu reshufle kabinet.

“Maraknya ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar cenderung wait and see dan tak jarang memilih keluar pasar alih-alih mengamankan posisi. Harapan datangnya sentimen positif tampaknya belum terwujud meskipun perkiraan kami akan datangnya pelemahan lanjutan dapat terbukti,” jelasnya.

Dari Sisi eksternal, kondisi dari bursa saham Asia yang cenderung melemah turut berimbas negatif pada laju IHSG. Fokus pelaku pasar tampaknya lebih memperhatikan kondisi bursa saham global yang melemah. Apalagi juga didukung dengan melemahnya sejumlah data-data manufaktur.

“Laju IHSG pada pekan ini mampu bergerak positif melampaui kekhawatiran akan adanya pelemahan. Mulai menguatnya sejumlah laju bursa saham Asia tampaknya memberikan semangat positif bagi IHSG sehingga mampu berbalik menguat. Sentimen dari rilis GDP yang lebih baik dari estimasi sebelumnya cukup direspon positif pelaku pasar,” jelasnya.

Mulai variatif cenderung melemahnya laju bursa saham Asia berimbas negatif pada laju IHSG sehingga tidak dapat mengikuti momentum kenaikan di bursa saham AS dan Eropa sebelumnya. Tidak hanya itu, kembali longsornya laju Rupiah seiring masih cenderung naiknya laju USD turut menambah sentimen negatif. Bahkan pernyataan pemerintah terkait momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan meroket di semester kedua pun tidak terlalu ditanggapi positif seiring belum adanya kecukupan keyakinan pelaku pasar terhadap pernyataan tersebut.

(Eka)