Prajurit TNI AU mengusung peti berisi jenazah almarhum Kapten Pnb Sandy Permana untuk dimakamkam di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang, Jateng, Kamis (2/7). Almarhum Kapten Pnb Sandy Permana merupakan pilot pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Medan pada Selasa (30/6). ANTARA FOTO/R. Rekotomo/Rei/aww/15.

Semarang, Aktual.com – Dentuman suara senapan pasukan Skuadron 12 Waytuba dan anggota Korps Pasukan Khas (Paskhas) Lanumad Adi Soemarmo Malang, mengiringi tempat peristirahatan terakhir Kapten Pnb Sandi Permana, korban kecelakaan pilot pesawat Hercules C-130, di TMP Giritunggal Semarang, Kamis (2/7).

Pria kelahiran 1 April 1984, itu meninggalkan seorang isteri seorang dokter cantik bernama Hapsari dan kedua putera-puterinya.

Prosesi pemakaman jenazah diawali Apel Persada oleh pasukan sebagai simbol bentuk penghormatan atas jasa dan penghargaan yang diberikan negara. Isak tangis keluarga terjadi ketika peti jenazah dibuka dan dimasukkan petugas galian tanah ke dalam liang lahat berukuran 2 x 0,6 meter.

Upacara milter yang dipersembahkan kepada Ibu Pertiwi itu menjadi lambang atas jasa dan penghargaan kepada negara. Pihak keluarga mewakilkan atas riwayat dan permohonan maaf melalui Marsekal Pertama (Marsma) Komandan Lanud, Haris Haryanto atas kepergian almarhum kepada pelayat.

“Demi kepentingan dan keluhuran bangsa, semoga seluruh jasa dan penghargaan almarhum menuju jalan dharma bakti yang mendapat tempat tenang di sisi-Nya,” ujar dia.

Ia mengatakan, musibah kecelakaan pesawat Hercules pada Selasa (30/6), sekitar pukul 12.00 WIB, sungguh mengejutkan bagi semua pihak. Meski begitu, musibah itu menjadi kehendak Tuhan sebagai mahluk yang percaya dan yakin akan hal itu.

“Itu semua sudah kehendak Tuhan. Tentunya sebagai manusia tidak bisa luput dari rasa sedih. Terlebih keluarga korban yang ditinggalkan,” ucapnya.

Baginya, Kapten Sandi merupakan sosok yang memiliki kepribadian tinggi dan loyal terhadap tugas dan tanggungjawab semasa bertugas. Selain itu, almarhum memiliki semangat menuntut ilmu yang tinggi.

“Dalam sepuluh tahun begitu cepat memperoleh gelar akademis kesarjanaan dan lulusan terbaik prestasi Akademi Militer TNI-AU,” ujar dia.

Lulusan terbaik lulusan komando Akademi Militer Angkatan Udara Adi Soemarmo Malang tahun 2005 itu kariernya begitu cemerlang. Dalam waktu sepuluh tahun, dua gelar pendidikan bangku kuliah diraihnya dalam waktu begitu cepat dengan prestasi yang diraih.

Adapun pemakaman di TMP Giritunggal, merupakan permintaan negara yang diminta keluarga.

()