Yudi Latif
Yudi Latif

Saudaraku, degup jantung kita ibarat detak waktu, yang setiap detiknya mengabarkan kehilangan dan penantian. Yang berlalu adalah kekinian yang lekas silam. Yang mendatang adalah kekinian yang lekas menjemput. Kemarin dan hari esok ditentukan hari ini.

Dengan angin keburukan yang kita tabur hari ini, masa lalu jadi hantu, masa depan menuai badai. Dengan biji kebaikan yang kita tanam hari ini, masa lalu jadi lumbung keagungan, masa depan menyongsong panen kebahagiaan.

Hadapilah tantangan masa depan dengan merebut hari ini. Jika pandangan kita ke depan digayuti kabut kerisauan dan pesimisme, sebab utamanya karena kita berhenti menanam benih harapan untuk masa depan.

Banyak orang menyia-nyiakan waktu, seolah waktu itu berlimpah, berputar melingkar. Sesungguhnya, waktu itu ibarat aliran sungai. ”Tak ada seorang pun bisa melintasi sungai yang sama dua kali,” ujar Heraclitus. Sungai terus mengalir, manusia terus berubah.

Waktu adalah milik kita yang paling berharga. Dalam kaidah ekonomi, makin jarang sesuatu dan makin sering digunakan, maka akan semakin bernilai. Emas, misalnya, cadangannya terbatas, tetapi banyak digunakan, maka nilainya sangat tinggi. Kebanyakan hal yang bisa dimiliki bisa diisi ulang. Cadangan berlian dan emas bisa ditemukan, uang bisa dicetak kembali, tetapi tidak dengan waktu. Waktu yang hilang tidak tergantikan. Peribahasa ”waktu adalah uang” tak sepenuhnya tepat. Waktu, sebagai sumber daya yang paling jarang, jauh lebih berharga daripada uang.

Dalam penggunaan waktu juga berlaku prinsip ”opportunity costs”. Bahwa apa pun yang kita pilih untuk diperbuat berisiko hilangnya kesempatan melakukan hal lain. Dengan uang, kita memiliki pilihan konservatif dengan menyimpannya di bank, tetapi tidak dengan waktu. Kita menghabiskan waktu setiap saat. Kita ”adalah jam yang setiap saat waktu berkata sendiri”, ujar Shakespeare.

Waktu bukanlah keabadian, sekadar labirin tanda tanya yang di setiap ujung jeda dan pintunya selalu sisakan misteri. Akan tetapi, setiap jejak tidaklah sia-sia. Seperti samudra bermula dari tetes air. Setiap darma memberi harapan masa depan. Lukisan masa depan adalah pilihan kita menggoreskan warna pada kanvas masa kini.

Makrifat Pagi, Yudi Latif

(As'ad Syamsul Abidin)