Jakarta, Aktual.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyatakan mengecek informasi bahwa masyarakat sudah mendapatkan rumah sakit (RS) di Jakarta karena jumlahnya mencapai 194 unit di Ibu Kota.

“Tentu ini akan menjadi catatan bersama-sama, saya akan cek sebenarnya, apakah penyebarannya (RS) atau apa? Karena pada dasarnya ada 140 dari 194 RS yang siap memberikan layanan,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Widyastuti di Balai Kota Jakarta, Kamis (27/1).

Hal tersebut diungkapkan Widyastuti mengomentari pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Abraham Wirotomo yang menyatakan warga Jakarta mulai sulit mencari rumah sakit.

Bahkan, Widyastuti juga mengakui keterisian tempat tidur RS di Jakarta adalah sekitar 45 persen dari 3.900 unit tempat tidur isolasi yang tersedia.

“Saat ini ada 3.900 tempat tidur untuk isolasi dan 611 untuk ICU. Keterisiannya dari 3.900 terisi 45 persen, jadi ‘spare’-nya masih lebar,” ujar Widyastuti.

Bahkan, Widyastuti menyebutkan hal itu belum mencapai kapasitas maksimal yang sesungguhnya bisa sampai 11 ribu lebih seperti tahun lalu.

“Sementara untuk unit perawatan intensif (Intensive Care Unit/ICU) terisi sebanyak 86 unit atau 15 persen dari 611 unit tempat tidur yang tersedia,” ucapnya.

Widyastuti menambahkan, pihaknya terus memantau perkembangan tingkat keterisian tempat tidur (BOR) di sejumlah rumah sakit.

Menurutnya, dari 91 rumah yang ada, sudah menginput data di sistem.

“Dari sekitar 1.700 kasus COVID-19 tersebut, sekitar 39 persen gejalanya ringan kemudian ada yang asimtomatis (tanpa gejala) sekitar sembilan persen,” ucapnya.

Karena dari 45 persen keterisian RS itu, ada kebocoran sekitar 48 persen yang ternyata bergejala ringan dan tanpa gejala dirawat di rumah sakit.

Oleh karena itu, Widyastuti mengimbau masyarakat agar pasien yang bergejala sedang sampai berat saja yang dirawat di rumah sakit.

Hal ini, mengingat ada regulasi dari Kementerian Kesehatan yang menyatakan bahwa pasien tanpa gejala maupun yang bergejala ringan sebaiknya tidak dirawat di rumah sakit.

“Memang dulunya ada regulasi Kemenkes yang ‘probable’ dan ‘confirm’ itu dirawat, tetapi sudah ada edaran terbaru bahwa yang dirawat adalah yang sedang hingga kritis,” katanya.

Oleh karena itu, Widyastuti meminta warga untuk tidak panik apabila terpapar virus corona dan langsung ke rumah sakit, karena pemerintah pusat juga tengah menyiapkan fasilitas telemedicine untuk membantu isolasi mandiri.

“Ini yang tentunya perlu diinformasikan kepada warga bahwa jangan panik, sedang disediakan platform telemedicine untuk yang tidak bergejala atau bergejala ringan, bisa isoman atau nanti disortir yang sedang disiapkan,” ucap Widyastuti.

Isoman Omicron
Widyastuti menyebut berdasar regulasi baru, untuk pasien virus Corona varian Omicron, disarankan untuk isolasi mandiri, tanpa harus dirawat ke rumah sakit.

Hal itu karena, kata dia, dari beberapa jurnal medis internasional, gejala pasien varian Omicron tidak seberat pasien varian Delta.

“Jadi, seperti beberapa pemberitaan dan jurnal-jurnal medis yang ada bahwa kasus Omicron tidak seberat varian Delta, sehingga atas regulasi yang baru dari Kemenkes untuk asimtomatis dan ringan bisa isoman, sudah disiapkan telemedicine,” ujarnya.

Selain pengawasan dari telemedicine, Widyastuti menegaskan pihaknya juga bekerja sama dengan Puskesmas dan satgas dari tingkat RT untuk membantu memantau isolasi mandiri.

“Artinya mulai dari keluarga, satgas RT, tim kesehatan dan bahwa varian hampir 80-90 persen hasil WGS di DKI itu Omicron. Sisanya belum keluar hasilnya atau varian yang lain. Nah mengerucut dari berbagai jurnal-jurnal bahwa Omicron tidak seberat varian lain dan diinfokan bahwa tidak langsung mengenai paru-paru,” ujarnya.

Dia menambahkan, pasien Omicron gejalanya lebih ringan sehingga dengan istirahat cukup, memenuhi prokes yang baik, pastikan vaksinnya sudah tercukupi dengan benar. “Artinya, seandainya kena itu OTG atau ringan saja, InsyaAllah sembuh,” katanya.

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)