Jakarta, Aktual.co —Adi Widodo, pria berumur 48 tahun ini mempunyai pekerjaan penting dalam menjaga ‘benteng’ bagi wilayah DKI Jakarta ketika musim hujan tiba dan ancaman banjir datang. Profesinya tak lain adalah penjaga pintu air Manggarai, Jakarta Selatan. 
Tanggungjawab yang dipikul Adi memang tak main-main. Sebagai Kepala Penjaga Pintu Air Manggarai, dia harus memimpin anak buahnya dalam menjaga dan mengendalikan aliran air dari Bendungan Katulampa Bogor yang melewati aliran Sungai Ciliwung di Pintu Air Manggarai yang disebut dengan Aliran Sungai Tengah.
Kala hujan sedang deras-derasnya dan debit air meningkat, bukan sekali dua kali Adi dan rekan kerjanya harus 24 jam memantau pintu air dan tidak bisa pulang ke rumah. 
Menjaga pintu air Manggarai sejak tahun 1999, Adi mengakui profesinya merupakan sebuah pekerjaan menuntut disiplin tinggi. 
“Kadang anak telepon, nanya kenapa saya kok enggak pulang-pulang. Saya hanya bisa jawab ‘masih kerja nak’. Kadang istri saya yang ‘nyamper’ ke sini, bawain makanan karena khawatir saya sakit,” tuturnya saat disambangi Aktual.co, Selasa (4/11).
Diakuinya, jam kerjanya memang seperti tidak mengenal waktu. Bahkan dirinya malah lebih merasa ‘tenang’ ketika berada di posnya, ketimbang pulang ke rumah saat hujan. 
“Kami bisa berjaga selama 24 jam, mulai jam sembilan pagi sampai jam sembilan pagi besoknya. Tidak boleh tidur, kan debit air dicatat tiap satu jam sekali. bahkan kalau situasi air sedang naik, kami catat per 30 menit,” ungkapnya.
Meski sudah disiplin dalam bekerja, kata Adi, tetap saja banyak warga yang menelepon ke pos sambil marah-marah ketika banjir terjadi.
“Kalau musim hujan telepon di sini berdering terus. Ada yang sekadar nanya ada juga yang marah-marah karena kebanjiran. Pernah juga ada yang marah-marah karena banyak sampah,” katanya.
Diakuinya, pintu air Manggarai memang paling disorot masyarakat terutama ketika musim penghujan tiba.
Tapi jangan kira Adie bakal berbalik marah ketika disemprot oleh warga yang menelepon. Dia justru menerima itu semua sebagai risiko pekerjaan yang 15 tahun dia geluti sukai. 
Mengaku sangat menikmati pekerjaannya sekarang, pria yang gemar naik gunung itu menuturkan bagaimana dirinya bisa bekerja sebagai penjaga pintu air. 
Awalnya, kata dia, di tahun 1998 dirinya bekerja di salah satu pasar swalayan di Jakarta. Baru di tahun 1999 dirinya lalu mencoba melamar jadi penjaga pintu air. 
“Alhamdulillah bertahan hingga sekarang,” ungkapnya.
Saat ditanya penghargaan apa yang pernah diterimanya dari Pemerintah Pusat ataupun Pemprov DKI atas dedikasinya, Adi hanya menjawab sangat simpel, yakni diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) DKI Jakarta. “Itu adalah penghargaan buat saya.”
Ada pengalaman yang tak akan mungkin bisa dilupakannya selama menjadi penjaga pintu air. Yakni saat dirinya sedang melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.
Pasalnya, akibat hujan sedang deras-derasnya, dirinya tidak bisa mengikuti ujian karena harus menjaga debit Air yang masuk ke pintu manggarai.
“Waktu itu hujan besar dan air kiriman dari Bogor masuk, mau ga mau harus ga masuk dua hari padahal lagi UTS di kampus. Ya mau gimana lagi ini tugas, tapi Alhamdulillah diperbolehkan ujian susulan oleh pihak kampus,” kenang Adi. 
Kepada warga DKI, meski semua orang boleh langsung menanyakan kepadanya perihal status debit air di Pintu Air Manggarai, tapi diingatkannya kalau dirinya dan teman-temannya bukanlah tukang pembersih sampah ataupun mencegah banjir. “Tapi ingat kami bertugas menjaga pintu air.”

()