Jakarta, Aktual.co — Pasar obligasi Indonesia masih sanggup menunjukkan pergerakan yang positif di tengah variatifnya sentimen dan kekhawatiran investor global. Pasalnya, masih melambatnya perekonomian global ditandai dengan melemahnya sejumlah data-data ekonomi dari Tiongkok, Jepang, dan Zona Euro yang belum sesuai dengan ekspektasi pasar, baik berupa data inflasi yang masih dinilai rendah yang menggambarkan masih rendahnya daya konsumsi masyarakat global hingga masih seretnya pertumbuhan kegiatan manufaktur, dan ditunjang lagi dengan tren menurun harga minyak dunia.

“Bahkan, maraknya pemberitaan yang menghubungkan pelantikan dan harapan baru terhadap pemerintahan Jokowi-JK dengan kondisi pasar cukup berpengaruh positif pada laju pasar obligasi,” ujar analis pasar dari PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada dalam riset yang diterima Aktual, Sabtu (25/10).

Menurutnya, meningkatnya kekhawatiran pasar akan outlook perekonomian global mendorong naik ekspektasi risiko investor global dan membuat mengalihkannya ke instrumen safe havens seperti US  treasury, German Bund, dan Yen Jepang.

“Di sisi lain, masih adanya kekhawatiran pasar terhadap langkah The Fed pasca berakhirnya program stimulus sedikit tereduksi dengan adanya indikasi bahwa ada kemungkinan untuk menunda pengetatan kebijakan moneternya dan kemungkinan juga bahwa program pembelian aset The Fed akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan,” jelasnya.

Pernyataan The Fed tersebut menjadi katalis positif  untuk pasar obligasi Indonesia. Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0068 yang memiliki jatuh tempo ±20 tahun mengalami kenaikan harga 259,05 bps. Begitupun dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo ±10 tahun mengalami penurunan harga 156,04 bps.

(Eka)