Jakarta, Aktual.com – Greenpeace sama sekali tidak berkeinginan menghentikan atau mengacaukan industri sawit di Indonesia apalagi laju perekonomian nasional serta tidak pernah menyerukan penghentian sektor kelapa sawit.

“Sejak belasan tahun itu dari berbagai materi kampanye, sudah jelas bahwa kami tidak pernah menyerukan boikot kelapa sawit, karena solusi untuk menyelamatkan hutan Indonesia adalah mengajak segenap industri sawit untuk beroperasi secara bertanggung jawab, berkelanjutan dan tidak merusak hutan Indonesia,” kata Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (4/12).

Hal itu disampaikan menanggapi adanya tudingan kampanye hitam terhadap Greenpeace yang dirancang sistematis untuk membungkam kampanye penyelamatan hutan Greenpeace, dan yang lebih penting lagi mengalihkan perhatian publik dari perusakan hutan yang saat ini terjadi.

Dikatakan, dalam setiap rilis, laporan, hasil investigasi dan lainnya, sudah sangat jelas bahwa kampanye Greenpeace adalah untuk menghentikan perusakan hutan besar-besaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar dan melindungi hutan alam Indonesia yang masih tersisa.

Praktek operasi sawit berkelanjutan bisa dimulai dengan cara yang sederhana dan jelas, yaitu berhenti merusak hutan dan memanfaatkan lahan sawit yang sudah ada dengan intensifikasi, guna meningkatkan produktivitas sawit per hektarnya.

Cita-cita operasi sawit Indonesia yang lestari dan berkelanjutan bukan hanya milik lembaga lingkungan seperti Greenpeace saja, tetapi semua pihak mulai dari petani, masyarakat umum, perusahaan sehingga pemerintah harus bergerak bersama demi mewujudkannya.

“Jika ini terwujud, niscaya industri sawit Indonesia akan membawa keuntungan dan manfaat lebih besar bagi seluruh masyarakat Indonesia dan lingkungan,” katanya.

Jadi jika mau mencermati, termasuk dari setiap rilis Greenpeace sejak 2007, kampanye Greenpeace mempunyai tujuan yang sangat jelas. Tidak seperti tudingan-tudingan aneh yang marak saat ini (Greenpeace ingin menghancurkan industri sawit Indonesia, ekonomi Indonesia, ditunggangi kepentingan asing).

Apalagi faktanya Greenpeace sangat independen dari kepentingan ekonomi dan politik mana pun. Sejak Greenpeace Indonesia berdiri, tidak pernah menerima dana dari pemerintah, baik pemerintah Indonesia maupun pemerintah negara lain, juga dari perusahaan-perusahaan swasta.

Tulang punggung kampanye, katanya, adalah donasi publik perorangan, dari para warga masyarakat yang peduli pada kelestarian lingkungan. Karenanya, dalam hal keuangan Greenpeace Indonesia tentu harus transparan dan bertanggung jawab.

Ant.

(Teuku Wildan)